Share

Hilirisasi Sawit, Sri Mulyani: Devisa Lebih Besar untuk Kesejahteraan Indonesia

Antara, Jurnalis · Rabu 01 Desember 2021 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 01 320 2510266 hilirisasi-sawit-sri-mulyani-devisa-lebih-besar-untuk-kesejahteraan-indonesia-yWVSyjjAn5.jpg Menkeu Sri Mulyani tekankan pentingnya hilirisasi sawit (Foto: Facebook)

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan pentingnya hilirisasi kelapa sawit untuk meningkatkan nilai tambah ekspor. Apalagi komoditas sawit menjadi andalan ekspor Indonesia.

“Semakin meningkat hilirisasi, nilai tambahnya semakin besar sehingga jika diekspor pastinya mendatangkan devisa yang lebih besar yang bisa dipergunakan bagi kesejahteraan Indonesia,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, Rabu (1/12/2021).

Baca Juga: Menko Airlangga Siapkan Roadmap Hilirisasi Kelapa Sawit, Apa Isinya?

Ia menilai komoditas sawit memiliki potensi yang sangat besar sebagai bahan baku industri dan diolah untuk menjadi produk-produk industri. Hanya saja, hilirisasi produk kelapa sawit Indonesia belum berkembang.

Karena itu, Presiden Joko Widodo meminta agar pemerintah fokus terhadap sektor ini dengan mengembangkan nilai tambah dari produk kelapa sawit melalui hilirisasi.

Baca Juga: Tekad Menko Airlangga RI Jadi Penentu Harga CPO Dunia

Selain meningkatkan pendapatan negara, lanjut Menkeu, hilirisasi meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan pelaku sektor perkebunan kelapa sawit lain.

“Sawit mempunyai peran penting tidak hanya bagi perekonomian, tapi juga pada kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Berdasarkan catatannya, jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung dalam sektor perkebunan ini sebagai petani sebanyak 4,2 juta orang. Sedangkan sebanyak 12 juta tenaga kerja terlibat secara tidak langsung dengan produk kelapa sawit.

Dalam kesempatan yang sama, Sri Mulyani meminta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk mendorong peningkatan produktivitas petani sawit mandiri tersebut.

Hal ini disebabkan sebagian besar perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani mandiri yang lahannya terbatas dan produktivitasnya lebih rendah dibandingkan perusahaan swasta sawit besar.

"Ini tugas BPDPKS untuk membantu petani mandiri dari sisi replanting dan produktivitas sawit per hektarnya sehingga bisa meningkat kesejahteraan petani sawit," katanya.

Dia mengungkapkan, sumbangan devisa dari sektor ini sebanyak 21,4 miliar dolar AS atau lebih dari 14 persen dari total penerimaan devisa ekspor non migas. Lalu, Indonesia disebut juga menggunakan sawit untuk mengatasi ketergantungan pada impor minyak melalui program biodiesel.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini