19 Juta Masyarakat Pakai Kompor Listrik, Negara Hemat Rp50,6 Triliun

Erlinda Septiawati, Jurnalis · Kamis 02 Desember 2021 15:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 320 2510881 19-juta-masyarakat-pakai-kompor-listrik-negara-hemat-rp50-6-triliun-Km6VuXhDHc.jpg Kompor Listrik. (Foto: Okezone.com/Sindonews)

JAKARTA - Pemerintah menargetkan 19 juta pengguna kompor induksi dengan potensi penghematan Rp50,6 triliun. Dalam merealisasikan rencana tersebut, dibutuhkan payung hukum terkait konversi kompor LPG ke kompor induksi.

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pembagio mengungkapkan, instruksi menggunakan kompor induksi yang datang dari Presiden Joko Widodo idealnya diikuti payung hukum untuk mengawal implementasinya.

"Presiden seharusnya menerbitkan aturan, sehingga bisa dilaksanakan. Kita bisa berkaca dari konversi minyak tanah, yang aturannya banyak, tapi pelaksanaannya banyak yang dievaluasi," ujarnya, Kamis (2/12/2021).

Baca Juga: Konsumsi Listrik di Indonesia Pecah Rekor, Tertinggi sejak 2017

Menurut Agus, dalam menerbitkan aturan untuk konversi kompor induksi, sebaiknya merujuk Undang-undang No 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Agus menyarankan, dalam pelaksanaan konversi ke depan, sebaiknya perlu diterapkan sanksi, sehingga lebih mengikat.

"Semuanya harus disiapkan terlebih dahulu. Agar bagaimana kebijakan ini lebih sustainable," katanya.

Agus menambahkan, dalam konversi kompor LPG ke kompor induksi, pemerintah juga perlu melibatkan antropolog, riset pasar yang matang, hingga strategi implementasi di masyarakat.

Baca Juga: Jokowi Ingin Kompor Listrik Diperbanyak, Aturannya Sudah Siap?

Sementara itu, Koordinator Penyiapan Program Konservasi Energi Kementerian ESDM, Qatro Romandhi mengatakan, pemanfaatan kompor induksi tidak hanya menyelamatkan keuangan negara, tetapi juga mendorong perekonomian, menyerap tenaga kerja hingga menghemat biaya memasak masyarakat.

Adapun rencananya pemerintah menargetkan 19 juta pengguna kompor induksi hingga 2030. Jika target itu tercapai, maka negara bisa menghemat devisa Rp50,6 triliun per tahun. 

"Tak hanya itu, beban biaya memasak terpangkas 57%. Bagi PLN bisa mengoptimalisasi pemanfaatan reserve margin PLN di pagi dan sore hari sekitar 3,2 gigawatt dengan potensi pendapatan Rp 1,8 triliun per tahun," tambahnya.

Sementara itu, VP Downstream Research and Technology Innovation Pertamina, Andianto Hidayat mengatakan, dukungan perseroan untuk mempercepat transisi energi di Tanah Air. Salah satu strategi Pertamina memangkas impor LPG yaitu dengan pengembangan gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME).

"Kalau pabrik DME terbangun, kita mengurangi impor 1 juta ton pada 2024 atau sekitar 15% dari kebutuhan impor. Lalu pada tahun berikutnya, saat pabrik lainnya terbangun 1 juta ton impor LPG kembali terpangkas," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini