Share

Kisah-Kisah Kerugian akibat Investasi Bodong

Zikra Mulia Irawati, Jurnalis · Jum'at 17 Desember 2021 12:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 17 320 2518500 kisah-kisah-kerugian-akibat-investasi-bodong-xs7xnwuPPu.jpg Kisah-Kisah Kerugian Akibat Investasi Bodong. (foto: Okezone.com)

JAKARTA - Investasi bodong hingga kripto masih menghkhawatirkan hingga saat ini. Pasalnya, tawaran keuntungan dari mudahnya berinvestasi tersebut membuat masyarakat mudah tergoda untuk ikut berinvestasi.

Baru-baru ini ada kisah investasi bodong alat kesehatan yang kerugiannya hingga Rp1,2 triliun. Pelaku pun masih diburu Polisi hingga saat ini.

Okezone merangkum beberapa kisah-kisah kerugian akibat investasi bodong atau kripto, Jumat (17/12/2021):

1. Investasi Bodong Alat Kesehatan

Investasi bodong suntik modal alat kesehatan tengah ramai dibicarakan belakangan ini. Terbaru, praktik money game ini dikabarkan merugikan banyak orang dengan total kerugian mencapai Rp1,2 triliun.

Baca Juga: Rugi Puluhan Miliar, Sejumlah Korban Investasi APD Bodong Lapor ke Polda Metro

"SCAM terbesar tahun ini, kasus investasi suntik modal alkes, kerugian mencapai Rp1,2 triliun dan aset yang berhasil disita saat ini mencapai 36M. Posisi pelaku saat ini kabur dan masih buron!" ungkap Niko Rachman dalam cuitannya di Twitter.

2. Modus Investasi Bodong

Mengutip laman Instagram Big Alpha, modus investasi bodong suntik modal berawal dari dana yang disuntik itu digunakan untuk membantu produksi pabrik atau gudang alat kesehatan dalam menyuplai kebutuhan alat kesehatan ke pemerintah langsung.

Kenapa pabrik atau gudang butuh suntikan modal? Karena permintaan dari pemerintah besar, namun baru dibayarkan setelah barang produksi jadi atau sekitar 2 - 4 minggu. Sedangkan saat produksi membutuhkan bahan pokok, tenaga kerja yang harus dibayar dahulu.

Baca Juga: Polri Selidiki Dugaan Investasi Bodong Berkedok Alkes

3. Iming-Iming Manis

Investor suntik modal alkes ini di iming-iming tinggal duduk manis saja. Setelah investasi, tidak perlu jualan juga, karena alat kesehatan ini permintaan pemerintah langsung untuk disebar ke rumah sakit seluruh Indonesia.

Ditekankan juga bahwa suntik modal alkes ini bukan saham yang bisa turun dan naik. Suntik modal ini adalah modal investor kembali dengan keuntungan sesuai tanggal yang sudah disepakati di awal. Jadi kenapa banyak yang tergiur? Suntik modal alias sunmod ini high risk dan high return dengan tidak ada jaminan sama sekali, yang tertipu jelas karena iming-iming cuan yang besar tadi.

Jika memang dapat proyek dari pemerintah dan butuh dana segar untuk modal kerja (working capital), seseorang bisa saja datang ke bank atau fintech. Invoice pemerintahnya "digadaikan" dan langsung dapat cash saat itu juga, Big Alpha menyebutnya skema 'invoice financing'.

4. Korban Investasi Bitcoin Bodong

Dulu, Perusahaan bitcoin atau mata uang digital bodong berhasil memperdayai puluhan nasabahnya. Dari pendataan sementara, jumlah kerugian yang dialami 5 orang korbannya mencapai sekira Rp18 miliar.

Perusahaan bitcoin atas nama PT Dunia Coin Digital dilaporkan ke pihak Kepolisian. Disebutkan, perusahaan tersebut tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun rupanya, sejak 2016 lalu perusahaan tersebut aktif beroperasi menjaring masyarakat luas untuk menjadi member.

Mulanya para member yang menjadi korban, kebanyakan telah berinvestasi sejak tahun 2017 lalu. Modusnya adalah, perusahaan mengarahkan para member membeli paket-paket yang tersedia yakni paket Silver Rp1,4 jutaan, Gold Rp7,3 juta, Paltinum Rp14 jutaan, dan Titanium Rp43 jutaan.

5. Masyarakat Rugi Rp117 Triliun Gegara Investasi Bodong

Satgas Waspada Investasi OJK, praktik-praktik investasi bodong telah merugikan masyarakat Indonesia hingga Rp117,4 triliun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Angka ini lebih besar dari APBD DKI Jakarta tahun 2021 (Rp84,19 triliun) dan hampir 12 kali lipat dari anggaran penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 (Rp10,43 triliun).

“Upaya edukasi dapat menjadi strategi preventif agar masyarakat tidak mudah terjerat modus-modus investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat, mengiming-imingi bonus untuk merekrut peserta, meniru atau mengatasnamakan penyedia layanan resmi untuk mengelabui masyarakat, serta menyediakan klaim tanpa risiko,” kata Sekretariat Satgas Waspada Investasi OJK Irhamsah dalam keterangan tertulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini