JAKARTA - Perusahaan bimbel China, New Oriental Education, tahun lalu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 60.000 karyawan karena terdampak kejatuhan industri Beijing.
Yu Minhong sang pendiri, dikutip dari CNN Business pada Selasa (11/1/2022), mengatakan dalam sebuah postingan di akun WeChat bahwa tindakan ini merupakan imbas kebijakan, pandemi, dan hubungan internasional yang terjadi selama 2021. Menurutnya, ada terlalu banyak perubahan yang terjadi sepanjang tahun kemarin.
Baca Juga: Pecat 2.400 Karyawan, Garuda Indonesia Hemat Bayar Gaji Rp143 Miliar/Bulan
Sebelumnya, New Oriental adalah salah satu layanan bimbel terpopuler dengan total 88.000 karyawan penuh waktu dan 17.000 guru kontrak. Data itu merupakan hasil pembaharuan pada Mei lalu. Namun, pada sebuah postingan lain, New Oriental mengklaim masih memiliki 50.000 guru dan staf setelah PHK terjadi.
Masih dari keterangan Yu, perusahaan bimbel ini tahun menghabiskan 20 miliar yuan (USD3,1 miliar atau Rp44,3 miliar) untuk mengembalikan uang bayaran pelanggan, memberikan kompensasi kepada karyawan yang dipecat, dan membayar sewa kepada situs-situs belajar di seluruh negeri.
Baca Juga: Garuda Indonesia Pecat 2.400 Karyawan
Dia juga menambahkan bahwa pendapatan perusahaan anjlok hingga 80% begitu pula dengan kapitalisasi pasar sebesar 90%. Jika ditotal, New Oriental telah kehilangan nilai pasar USD28 miliar atau Rp400,4 triliun sepanjang 2021.
Nasib ini harus dialami New Oriental karena munculnya kebijakan pelarangan tutor privat. Hal ini memicu obral perusahaan pendidikan secara besar-besaran di New York dan Hong Kong. Selama Juli lalu, Goldman Sachs memperkirakan kebijakan itu telah menghanguskan nilai pasar perusahaan pendidikan China sebanyak USD77 miliar dalam waktu kurang dari sepekan.
Sebagai jalan keluar, New Oriental akhirnya tidak lagi memberikan tutor untuk pelajaran sekolah, Mereka merencanakan untuk mengajar bidang lain, seperti musik atau olahraga yang tidak menjadi bagian dari kurikulum.
Selain itu, Yu mengatakan New Oriental juga tengah berencana banting setir menjadi platform live streaming yang akan fokus menjual produk-produk agrikultur.
“Bekerja keras, belajar dengan giat, dan coba untuk menemukan arah baru. Itu harus menjadi tiga tema baru saya untuk 2022,” ucap Yu.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)