Share

Ketegangan Ukraina-Rusia Angkat Dolar AS ke Level Tertinggi

Antara, Jurnalis · Selasa 25 Januari 2022 06:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 25 278 2537224 ketegangan-ukraina-rusia-angkat-dolar-as-ke-level-tertinggi-MifOrGs3Ke.jpg Dolar AS Menguat. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK- Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam dua minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Senin. Dolar terangkat karena meningkatnya risiko geopolitik Ukraina dan kemungkinan sikap hawkish Federal Reserve pada pertemuan kebijakannya minggu ini.

Sampai saat ini, sebagian besar mengabaikan pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina, tetapi ketegangan meningkat akhir-akhir ini. NATO mengatakan, pihaknya menempatkan pasukan dalam keadaan siaga dan memperkuat Eropa Timur dengan lebih banyak kapal dan jet tempur, yang dikecam Rusia sebagai peningkatan ketegangan.

Baca Juga: Inflasi AS Meningkat 0,5%, Dolar Semakin Tertekan

Amerika Serikat pun sedang mempertimbangkan untuk mengirim pasukan yang ditempatkan di Eropa Barat ke Eropa Timur dalam beberapa minggu mendatang. Seorang diplomat NATO mengatakan, Presiden AS Joe Biden memerintahkan keluarga diplomat untuk meninggalkan Kyiv.

“Mengingat orang telah kehilangan uang, apakah itu di kripto atau pasar saham, orang ingin menemukan pelakunya dan saya pikir orang-orang terbelah antara dua kandidat yang mungkin Federal Reserve dan Rusia,” kata Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, dikutip dari Antara, Selasa (25/1/2022).

"Saya skeptis bahwa semua ini didorong oleh Rusia. Merujuk pada aksi jual di pasar ekuitas. Tapi itu tidak berarti ketika tembakan pertama dilepaskan, tidak akan ada reaksi pasar yang dramatis," tambah Chandler.

Baca Juga: Dolar AS Lesu Dengar Pernyataan Ketua The Fed

Sementara itu, Ahli Strategi ING Bank Francesco Pesole mengatakan, pasar lebih menghargai premi risiko ke dalam euro, dengan meningkatnya kekhawatiran bahwa pertikaian Rusia atas Ukraina dengan Barat dapat mendorong Moskow untuk mengekang pasokan energi ke Eropa.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya menguat 0,25% dengan euro melemah 0,14% menjadi USD1,1324.

Euro juga melemah terhadap mata uang safe-haven franc Swiss, jatuh ke USD1,0298 pada satu titik, terendah sejak Mei 2015. Namun mata uang tunggal itu kemudian diperdagangkan naik sekitar 0,04%.

Mata uang safe-haven lainnya, yen, sebelumnya sedikit menguat terhadap dolar, tetapi kemudian melemah 0,01% versus greenback di USD113,69.

Indeks dolar telah naik sekitar 1,5 persen sejak 14 Januari. Selama periode ini, beberapa bank telah menaikkan perkiraan untuk kecepatan dan ukuran pengetatan kebijakan Fed, gambaran yang akan lebih jelas pada akhir pertemuan dua hari pada Rabu (26/1/2022).

The Fed diperkirakan akan memberi sinyal dimulainya kenaikan suku bunga pada Maret, sementara berpotensi menunjukkan seberapa cepat ia akan menyusutkan kepemilikannya atas obligasi pemerintah dan utang hipotek yang telah membengkak neracanya melewati 8 triliun dolar AS.

Sebagian besar memperkirakan kenaikan suku bunga pertama menjadi 0,25 persen pada Maret dan tiga lagi menjadi 1,0 persen hingga akhir tahun.

Bitcoin, yang nilainya telah berkurang setengahnya sejak menyentuh rekor USD69.000 pada November, turun di bawah USD34.000 untuk pertama kalinya sejak Juli lalu.

Bitcoin diperdagangkan serendah USD32.967 dolar, sementara ether, uang kripto terbesar kedua di dunia, merosot ke sekitar USD2.244 atau terendah sejak Juli.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini