Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ekonomi RI Bangkit, Menko Airlangga Jaga Iklim Usaha dan Waspadai Inflasi

Ahmad Hudayanto , Jurnalis-Kamis, 03 Februari 2022 |15:20 WIB
Ekonomi RI Bangkit, Menko Airlangga Jaga Iklim Usaha dan Waspadai Inflasi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Okezone.com/Kemenko Perekonomian. (Foto: Okezone.com/Kemenko)
A
A
A

JAKARTA - Pemulihan ekonomi Indonesia terus meningkat terlihat dari manufaktur yang semakin menggeliat. Pemerintah pun terus bekerja keras menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga performa positif ini dapat terus ditingkatkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sikap optimisme bahwa ekonomi terus membaik didasari pada Laporan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang diterbitkan IHS Markit, output sektor manufaktur Indonesia kembali di posisi ekspansif sebesar 53,7 pada Januari 2022, lebih tinggi dari bulan Desember 2021 yang mencapai 53,5.

Dengan demikian, sektor manufaktur melanjutkan level ekspansi selama lima bulan berturut-turut dan masih mengungguli beberapa negara ASEAN seperti Thailand (51,7), Filipina (50,0), dan Myanmar (48,5).

Baca Juga: Inflasi Januari 2,18%, Menko Airlangga Sebut Sinyal Pemulihan Ekonomi

“Dalam rangka menjaga tren pemulihan ekonomi nasional, Pemerintah akan terus mencermati berbagai risiko pencapaian inflasi tahun 2022, termasuk yang berasal dari imported inflation," ujarnya, Kamis (3/2/2022).

Airlangga mengatakan, hal ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dunia, permintaan yang tinggi telah mendorong naiknya harga-harga komoditas esensial dan berdampak terhadap kenaikan inflasi global.

IMF dalam publikasi terbaru World Economic Forum, yang dirilis Januari 2022 juga menyampaikan bahwa kenaikan inflasi merupakan salah satu faktor risiko pemulihan ekonomi di tahun 2022.

Baca Juga: Bertemu Dubes Selandia Baru, Menko Airlangga Bahas Kerja Sama Perdagangan hingga Energi

Kemudian harga energi yang tinggi disertai gangguan rantai pasok telah mendorong peningkatkan inflasi, terutama di Amerika Serikat dan banyak negara Emerging Market and Developing Economies (EMDE). Amerika Serikat sendiri menutup tahun 2021 dengan tingkat inflasi menembus 7% dan merupakan tertinggi sejak Juni 1982.

“Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia maupun Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk memitigasi berbagai tantangan pencapaian inflasi tahun 2022 baik yang berasal dari global maupun domestik. Penguatan program kerja dan strategi kebijakan pengendalian inflasi di level daerah menjadi strategis dalam mendukung pencapaian inflasi nasional tetap terkendali di tengah risiko-risiko yang dihadapi,” ujar Airlangga.

Dari sisi sektor riil, peningkatan demand global juga harus menjadi peluang yang bisa kita tangkap. Dengan output manufaktur Indonesia ke depan yang diperkirakan semakin bertumbuh, diharapkan prospek permintaan barang ekspor juga akan terus meningkat.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement