Share

IATA Resmi Ganti Jadi MNC Energy Investments Usai Ekspansi Bisnis ke Batu Bara

Zuhirna Wulan Dilla, Jurnalis · Kamis 10 Februari 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 10 278 2545052 iata-resmi-ganti-jadi-mnc-energy-investments-usai-ekspansi-bisnis-ke-batu-bara-nSXDSTknvY.jpg IATA resmi ganti nama jadi PT MNC Energy Investments. (Foto: Shutterstock

JAKARTA - PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk resmi berganti nama menjadi PT MNC Energy Investments Tbk (IATA atau Perseroan).

Perubahan nama itu karena kegiatan usaha utamanya diubah dari perusahaan pengangkutan udara niaga dan jasa angkutan udara, menjadi bidang investasi dan perusahaan induk, khususnya di sektor pertambangan batubara.

Perubahan ini dilakukan untuk memitigasi kerugian akibat pandemi Covid-19.

 BACA JUGA:Erick Thohir: Pembubaran PLN Batubara Dilakukan Tahun Ini

Diketahui, IATA mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD 7,2 juta di bulan September 2021, naik 15% dibanding USD 6,3 juta pada bulan September 2020.

Kenaikan tersebut diikuti dengan berbagai beban usaha yang menghasilkan rugi bersih sebesar USD 4,7 juta untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2021.

Tercatat juga soal kenaikan 118% dibanding rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumya sebesar USD 2,1 juta.

Mengingat industri penerbangan masih belum pulih, IATA meyakini ekspansi di bidang usaha baru menjadi solusi untuk memperbaiki nilai perusahaan.

Hal ini sekaligus memanfaatkan momentum yang timbul dari lonjakan harga komoditas batubara yang berkelanjutan.

Serta permintaannya yang terus meningkat.

Akhirnya, IATA mengambil langkah strategis dengan merambah ke sektor energi, khususnya tambang batubara.

Pada hari ini, Kamis (10/2/2022), IATA telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Ini menjadi kegiatan untuk menyetujui perubahan bisnis utama IATA.

RUPSLB menyetujui pengalihan aset transportasi udara kepada salah satu anak usaha IATA yakni, PT Indonesia Air Transport (IAT), yang juga telah mengantongi Sertifikat Operator Pesawat Udara dari Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Kini, IATA resmi dapat menyelenggarakan angkutan udara niaga sesuai dengan petunjuk pengoperasian dan peraturan keselamatan penerbangan sipil yang berlaku.

Agar lebih memperkuat posisi perseroan dalam industrinya PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk resmi berganti nama menjadi PT MNC Energy Investments Tbk.

Perseroan juga telah mendapat restu dari pemegang sahamnya untuk mengambilalih 99,33% saham PT Bhakti Coal Resources (BCR) dari PT MNC Investama Tbk (BHIT).

Selain itu, BCR yang merupakan perusahaan induk dari sembilan perusahaan batubara dengan izin usaha pertambangan (IUP) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, meliputi:

- PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC) dan PT Putra Muba Coal (PMC), keduanya sudah beroperasi dan aktif menghasilkan batubara dengan kisaran GAR 2.800 – 3.600 kkal/kg.

Dengan total area seluas 9.813 ha, BSPC memiliki perkiraan total sumber daya 130,7 juta MT, sementara PMC memiliki 76,9 juta MT, dengan perkiraan total cadangan masing-masing sebesar 83,3 juta MT dan 54,8 juta MT.

- PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE), keduanya ditargetkan untuk memulai produksi batubara dalam tahun ini. Ditambah lagi, PT Energi Inti Bara Pratama (EIBP), PT Sriwijaya Energi Persada (SEP), PT Titan Prawira Sriwijaya (TPS), PT Primaraya Energi (PE), dan PT Putra Mandiri Coal (PUMCO) yang sedang disiapkan untuk beroperasi dalam satu atau dua tahun dari sekarang. Tujuh IUP dengan luas 64.191 ha ini memiliki estimasi total sumber daya sebesar lebih dari 1,4 miliar MT.

Produksi BSPC dan PMC pada tahun 2021 mencapai 2,5 juta metrik ton, menghasilkan pendapatan sekitar USD 74,8 juta dengan EBITDA USD 33 juta.

Pada periode sembilan bulan hingga September 2021, BCR berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD 44,1 juta dengan EBITDA senilai USD 20,4 juta.

Dengan asumsi akuisisi BCR oleh IATA terlaksana pada Januari 2021, laporan IATA untuk September 2021 akan menghasilkan pendapatan USD 51,4 juta dengan EBITDA sebesar USD 20,4 juta, daripada pendapatan sebesar USD 7,2 juta dengan kerugian EBITDA USD 54,8 ribu.

Laporan asumsi laba rugi tersebut akan jauh lebih baik lagi untuk periode tahunan 2021 dan pastinya akuisisi BCR dinilai sangat bermanfaat bagi IATA.

Akuisisi BCR menjadi lebih menarik karena sembilan IUP milik BCR yang telah disebutkan sebelumnya akan diakuisisi dengan nilai USD 140 juta, 23% lebih rendah dari valuasi BSPC dan PMC.

Pada 2022, BCR telah memperoleh ijin untuk meningkatkan produksi hingga 8 juta metrik ton.

Dengan estimasi harga batubara terus menguat dan target produksi tersebut tercapai, kinerja keuangan IATA tahun 2022 diperkirakan akan sangat baik, sehingga ekspektasi peningkatan pendapatan bisa 3x lipat dari tahun 2021, setelah mengalami kerugian sejak tahun 2008.

Struktur Perseroan sebelum transaksi tercatat, kalau PT Global Maintenance Facility sebanyak 86,94%, PT MNC Infrastruktur Utama 99,99%.

Sedangkan untuk struktur perseroan setelah transasksi ada PT Indonesia Air Transport sebayak 99,99%, PT Global Maintenance Facility 86,94%, PT MNC Insfrastruktur 99,99% dan PT Bhakti Coal Resources 99,33%.

 BACA JUGA:Tak Ada Muatan, 47 ABK Nekat Mencuri 31 Ton Batubara

Sebagai informasi, untuk prospek menjanjikan dari bisnis batubara sendiri, terlihat Sepanjang 2021 harga batu bara global terus merangkak naik.

Bahkan memasuki semester kedua hingga menjelang akhir tahun, harga mineral ini melesat tinggi hingga menyentuh harga tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan dipengaruhi berbagai aspek, terutama untuk memenuhi kebutuhan energi yang disebabkan oleh pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi.

Berbagai komplikasi tambahan seperti gangguan pasokan dan konflik antar negara, ditambah dengan permintaan yang untuk menyambut musim dingin serta banjir di provinsi Shanxi, pusat penambangan batu bara terbesar di China.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini