Share

Sebelum Diusir dari Rapat, DPR Sebut Dirut Krakatau Steel Maling Teriak Maling

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 14 Februari 2022 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 14 320 2547041 sebelum-diusir-dari-rapat-dpr-sebut-dirut-krakatau-steel-maling-teriak-maling-8vXS6KBDcf.jpg Direktur Utama Krakatau Streel Silmy Karim. (Foto: Okezone.com/Sindonews)

JAKARTA - Komisi VII DPR mengkhawatirkan PT Krakatau Steel Tbk menjadi perusahaan calo untuk komoditas baja. Pasalnya, ada tudingan jika emiten dengan kode saham KRAS menjadi trader baja.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Bambang Haryadi mengatakan, ada informasi yang beredar di masyarakat bahwa KRAS kerap menjadi trader untuk komoditas baja.

Baca Juga: Usir Silmy Karim, Komisi VII: Kita Investigasi Khusus Krakatau Steel

Kabar itulah menjadi referensi bagi Bambang dan melontarkan pernyataan kepada Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, tentang 'malik teriak maling' saat rapat dengar pendapat (RDP) pada Senin hari ini.

"Yang beredar di tengah masyarakat kan kita sering mendengar bahwa Krakatau Steel ini salah satu trader, kan lucu. Itu yang tadi saya sampaikan kenapa saya bilang jangan sampai 'maling teriak maling'," ujar Bambang, Senin (14/2/2022).

Baca Juga: Diusir DPR, Dirut Krakatau Steel Buka-bukaan Stop Proyek Blast Furnace

Pernyataan Bambang merupakan merespon terhadap paparan Silmy Karim perihal berhentinya proyek Blast Furnace atau peleburan tanur tinggi hingga upaya penguatan industri baja dalam negeri. Peryataan itu pun berujung pada pengusiran Silmy dari ruang sidang.

Sebelum diusir, Silmy membeberkan alasan utama penghentian proyek Blast Furnace yang dikelola pihaknh. Perkaranya karena perusahaan mengalami kerugian berarti.

Kerugian terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara kapasitas fasilitas hulu (ironmaking and steelmaking) dan kapasitas fasilitas hilir (rolling), membuat perusahaan harus mengimpor bahan baku. Lalu, perusahaan memproduksi baja setengah jadi dengan harga yang tinggi dan berfluktuasi.

Persoalan lainnya, terkait dengan kenaikan harga hingga keterbatasan jumlah energi seperti listrik dan natural gas. Perkara ini mendorong KRAS untuk mengambil langkah efisiensi berupa mencari energi alternatif lain. Lalu, tidak efektifnya proyek Blast Furnace pun lantaran tidak adanya fasilitas basic oksigen furnace.

"Jadi kita ingin dalami, kita ingin investigasi kenapa blast furnace yang ada saat ini harus dihentikan, kalau alasan rugi apakah ruginya sedemikian? apakah lebih merugi mana, rugi dihentikan ataukah membuat baru? ini kan sesuatu yang unik," ungkap Bambang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini