Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Banyak Alat Produksi UMKM tapi Nganggur, Kenapa?

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Kamis, 17 Februari 2022 |13:33 WIB
Banyak Alat Produksi UMKM tapi <i>Nganggur</i>, Kenapa?
Banyak Alat Prouksi UMKM dan Bumdes Belum Digunakan. (Foto: Okezone.com/Kementan)
A
A
A

JAKARTA - Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Samsul Widodo mengungkapkan masih banyak alat-alat yang diberikan kepada UMKM dan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) tapi belum digunakan saat ini.

"Jadi banyak alat-alat yang dibantu ke Bumdes, UMKM, hingga ke koperasi, itu sampai bertahun-tahun masih diplastikan," ujarnya dalam diskusi virtual BumdesTalk, Kamis (17/2/2022).

Baca Juga: Sejalan Dengan Agenda Prioritas G20, Sri Mulyani Apresiasi Kinerja BRI Garap Potensi Ultra Mikro

Menurutnya, dari segi kelengkapan peralatan sudah bukan menjadi alasan untuk Bumdes atau UMKM ini berkembang, sebab pemerintah sudah banyak memberikan.

Namun yang sebetulnya menjadi permasalahan yang seharusnya ditangai adalah masalah manajemen pemasaran dan strateginya, manajemen SDM yang dimiliki hingga manajemen keuangan.

"Ini tidak pernah ditangani secara komprehensif," sambungnya.

Sehingga menurutnya pemerintah telah support dari segi peralatan, namun ada masalah lain yang belum bisa ditangai sendiri oleh para UMKM maupun Bumdes.

Baca Juga: Mantul! Aksesoris Perak Desa Devisa Bantul Diminati Delegasi G20

Pada pengelolaan yang dimaksudkan Samsul seharusnya Bumdes maupun UMKM ini harus mengubah bisnis model yang tercipta dari adanya disrupsi teknologi dan demografi saat ini.

"Adanya pandemi, itu kita harus merubah bisnis model kita, dan pertanyaan lagi siapa yang harus mendampingi? yaitu para koperasi, para UMKM maupun Bumdes," kata Samsul.

Samsul menganalogikan saat ini makanan yang dijual di warung kelontong adalah makanan dari industri besar, yang memiliki harga murah dan terjangkau untuk kantong masyarakat.

"Saya lihat produknya UMKM itu ada kripik dijual dengan harga Rp15 ribu, gimana bisa bersaing dengan produk di warung toko kelontong yang hargannya Rp2 - 10 ribu dapat barang," tutur Samsul.

"Saran saya adalah saat ini bagaimana UMKM atau Bumdes ini menguasai toko kelontong, kalau tidak bisa menguasai warung dan tokok kelontong, ada masalah terhadap produk itu," pungkasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement