Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rusia 'Dihujani' Sanksi dari Negara Barat, Ekonominya Bisa Runtuh?

Tim Okezone , Jurnalis-Sabtu, 26 Februari 2022 |08:57 WIB
Rusia 'Dihujani' Sanksi dari Negara Barat, Ekonominya Bisa Runtuh?
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Foto: Reuters)
A
A
A

JPMorgan memproyeksikan sanksi ini akan memotong hingga 3,5 poin persentase dari pertumbuhan PDB pada semester kedua 2022.

Dari data Reuters pun terlihat langkah-langkah yang dilakukan Barat sangat beragam, di antaranya pembekuan aset pada banyak bank dan pengusaha Rusia, penghentian penggalangan dana di luar negeri, pembekuan proyek pipa gas senilai $11 miliar ke Jerman dan membatasi akses ke barang-barang berteknologi tinggi seperti semikonduktor.

Namun, Rusia menolak tegas peneraman sanksi itu.

Lalu, negara-negara pemberi sanksi juga tidak dapat segera merusak perekonomian Rusia karena adanya cadangan mata uang sebanyak

$643 miliar, minyak dan gas yang mengalami peningkatan pesat.

Apalagi Rusia mendapatkan julukan negara berekonomi "benteng", di samping surplus transaksi berjalan sebesar 5 persen dari PDB tahunan dan rasio utang terhadap PDB 20 persen, termasuk yang terendah di dunia. Hanya setengah dari kewajiban Rusia dalam dolar, turun dari 80 persen dua dekade lalu.

Granville menyebut kembali kalau lonjakan harga minyak justru akan membuat Rusia mendapatkan tambahan 1,5 triliun rubel ($ 17,2 miliar).

"Rusia pada dasarnya akan diperlakukan sebagai negara berseteru yang terputus dari arus global, investasi, dan interaksi ekonomi normal lainnya yang membangun standar hidup, pendapatan, produktivitas, dan profitabilitas perusahaan," jelasnya.

Tapi prediksi soal tanda-tanda kerentanan ekonomi sudah terlihat.

Karena pendapatan Rusia saat ini masih di bawah level 2014 dan pada 2019, sebelum pandemi COVID-19 melanda.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement