Share

Mengenal Kaum Oligarki Rusia, Orang Super Kaya yang Disebut Kroni-Kroni Putin

Selasa 01 Maret 2022 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 01 320 2554436 mengenal-kaum-oligarki-rusia-orang-super-kaya-yang-disebut-kroni-kroni-putin-pGTJ2ELRRF.jpg Roman Abramovich Disebut sebagai Salah Satu Oligarki Rusia. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Oligarki Rusia kembali menjadi pusat kontroversi internasional saat krisis antara Rusia, Ukraina dan Barat meningkat. Saat Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, Barat pun memperketat sanksi terhadap Bank Rusia dan sejumlah individu, yang sering digambarkan media Barat sebagai "kroni-kroni" Putin.

Lantas apa itu oligarki dan bagaimana istilah itu berasal dan mengapa banyak oligarki Rusia yang terkena sanksi Barat?

Kata oligarki memiliki sejarah panjang, tetapi di zaman sekarang, kata tersebut berarti jauh lebih spesifik.

Kaum oligarki dalam pengertian tradisional adalah anggota atau pendukung oligarki, yaitu sistem politik yang diperintah sekelompok kecil orang.

Tapi sekarang, oligargi sering digunakan untuk merujuk pada sekelompok orang Rusia yang sangat kaya yang menjadi terkenal setelah jatuhnya Uni Soviet pada 1991.

Baca Juga: Disanksi Barat, Putin Balas dengan Larangan Transfer Valas ke Luar Rusia

Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani oligoi, yang berarti sedikit, dan arkhein yang berarti memerintah.

Berbeda dengan monarki (pemerintahan satu orang, monos) atau demokrasi (pemerintahan rakyat, demos).

Oleh karenaitu, oligarki dapat menjadi anggota kasta penguasa yang dipisahkan dari masyarakat lainnya berdasarkan agama, kekerabatan, prestise, status ekonomi, dan bahkan bahasa mereka. Elite-elite seperti itu cenderung memerintah untuk kepentingan mereka sendiri, seringkali melalui cara yang meragukan.

Lantas siapa saja kaum oligarki Rusia saat ini?

Saat ini, seorang oligarki lebih sering didefinisikan sebagai orang yang sangat kaya, yang menghasilkan uang dari berbisnis dengan negara.

Mungkin seorang oligarki paling terkenal di Inggris adalah pengusaha Rusia Roman Abramovich, pemilik klub sepakbola Chelsea. Bernilai sekitar USD14,3 miliar (Rp205,8 triliun), dia jadi kaya raya setelah menjual aset-aset milik negara di Rusia yang sebelumnya ia peroleh setelah jatuhnya Uni Soviet.

Baca Juga: Investasi Emas Semakin Menarik, Harganya Naik hingga USD13,1

Yang lainnya adalah Alexander Lebedev, mantan perwira KGB dan bankir. Putranya bernama Evgeny adalah pemilik surat kabar London Evening Standard.

Evgeny adalah warga negara Inggris dan telah menjadi anggota Majelis Tinggi parlemen Inggris.

Sebuah organisasi independen yang berbasis di Kyiv, Ukrainian Institute for the Future (UIF), menyalahkan pengaruh luas oligarki pada masyarakat, industri, dan politik Ukraina sebagai penyebab goyahnya pembangunan negara itu.

Dalam laporannya, UIF mengatakan oligarki lama di negara itu berkembang di bawah kepresidenan Leonid Kuchma, setelah runtuhnya Soviet pada 1990-an.

"Oligarki Ukraina menerima sebagian besar aset mereka dari kolusi dengan pejabat dan melalui privatisasi yang tidak transparan. Sejak saat itu, kontrol atas sistem politik terus menjadi aspek kunci untuk menyelamatkan bisnis mereka," kata laporan UIF, dikutip dari BBC Indonesia, Selasa (1/3/2022).

Selain itu, hal menarik dari oligarki adalah bagaimana orang-orang ini menghasilkan uang?

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Direktur Eksekutif UIF Victor Andrusiv mengatakan, bahwa oligarki adalah kelas khusus di masyarakat, dengan cara khusus melakukan bisnis dan memiliki cara khusus untuk hidup dan berpengaruh.

"Mereka sebenarnya bukan pengusaha. Mereka adalah orang kaya, tetapi cara mereka menjadi kaya benar-benar berbeda dengan apa yang terjadi di negara kapitalis," kata Andrusiv.

"Mereka tidak menciptakan bisnis: mereka merebut bisnis dari negara," sambungnnya.

Alasan mengapa begitu banyak orang berbicara tentang oligarki Rusia saat ini juga karena terkait dengan apa yang terjadi setelah berakhirnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Pada Hari Natal 1991, Mikhail Gorbashev mengundurkan diri dari kepresidenan Soviet dan menyerahkan kekuasaan kepada Boris Yeltsin, yang menjadi presiden Rusia yang baru merdeka.

Ketika di bawah komunisme tidak ada kepemilikan pribadi, Rusia yang berubah jadi kapitalis lalu mengalami privatisasi dalam skala besar, terutama di sektor industri, energi, dan keuangan.

Akibatnya, banyak orang menjadi sangat kaya selama privatisasi di awal 1990-an. Jika mereka di posisi yang tepat, dengan koneksi yang tepat pula, mereka dapat memperoleh seluruh bagian dari industri Rusia, berbisnis bahan mentah seperti mineral atau minyak dan gas, yang diminati di seluruh dunia.

Mereka kemudian membayar para pejabat yang membantu proyek-proyeknya atau memberi mereka pekerjaan sebagai direktur.

Kaum oligarki itu memiliki media massa, ladang minyak, pabrik baja, perusahaan teknik, dan seringkali mereka hanya membayar pajak yang sangat kecil atas keuntungan mereka.

Mereka mendukung Yeltsin dan mendanai kampanye kepresidenannya tahun 1996.

Kemudian ketika Putin menggantikan Yeltsin, dia mulai mengendalikan oligarki. Namun, orang-orang yang tetap bersekutu secara politik dengannya menjadi lebih sukses.

Beberapa oligarki mula-mula yang menolak untuk mengikuti, seperti bankir Boris Berezovsky, terpaksa meninggalkan Rusia. Mikhail Khodorkovsky, yang pernah diyakini sebagai orang terkaya Rusia, sekarang tinggal di London.

Ketika ditanya tentang oligarki pada 2019, Putin mengatakan kepada Financial Times bahwa negaranya tidak memiliki oligarki lagi. Tetapi orang-orang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Putin mampu membangun kerajaan bisnis berkat dukungannya.

Boris Rotenberg, yang pernah berada di klub judo yang sama dengan Putin ketika mereka masih anak-anak, telah digambarkan oleh pemerintah Inggris sebagai seorang pengusaha Rusia terkemuka dengan hubungan pribadi yang dekat dengan presiden Rusia itu.

Menurut Forbes, kekayaan Rotenberg senilai USD1,2 miliar atau setara Rp17,2 triliun.

Baik Rotenberg dan saudaranya, Arkady, menjadi sasaran sanksi oleh Inggris setelah Putin mengakui dua wilayah separatis Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur sebagai republik rakyat.

Selain Inggris, Ukraina, AS, Uni Eropa, Australia, dan Jepang telah memberlakukan sanksi terhadap oligarki Rusia. Setelah invasi Rusia ke Ukraina banyak sanksi tampaknya akan diperketat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini