JAKARTA - Setelah Moody's, kini gilrian Fitch yang menurunkan peringkat kredit negara Rusia enam tingkat menjadi status "sampah" pada Rabu (3/3/2022).
Alasannya karena Rusia yang mendapat banyak sanksi imbas invasi Ukraina sehingga ditakutkan tak dapat membayar utang dan melemahnya ekonomi.
Tentu itu menjadi pertanyaan bagi Fitch terkait kelayakan Kredit Rusia.
Diketahui, kalau Pasar keuangan Rusia kacau setelah serangan besar ke Ukraina, Kamis (24/2/20220.
BACA JUGA:TV Rusia dan Sputnik Dilarang Siaran Uni Eropa karena Disinformasi soal Ukraina
Akhirnya, invasi tersebut memicu serangkaian pergerakan peringkat kredit yang membingungkan dan peringatan mengerikan tentang dampak terhadap ekonomi Rusia.
Kemudian, pekan lalu, S&P menurunkan peringkat Rusia menjadi status sampah dan Moody's menempatkan negara tersebut dalam peninjauan untuk penurunan peringkat menjadi sampah.
Lalu, Institute of International Finance (IIF) memprediksi kontraksi dua digit pada pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Sehingga, Fitch menurunkan peringkat Rusia menjadi "B" dari "BBB" dan menempatkan peringkat negara itu pada "peringkat pantauan negatif".
"Beratnya sanksi internasional sebagai tanggapan atas invasi militer Rusia ke Ukraina telah meningkatkan risiko stabilitas keuangan makro, merupakan guncangan besar bagi fundamental kredit Rusia dan dapat merusak kesediaannya untuk membayar utang pemerintah," kata Fitch dalam sebuah laporan.
BACA JUGA:Seminggu Bungkam, Rusia Akui Hampir 500 Tentaranya Tewas di Ukraina
Fitch menjelaskan, sanksi AS dan Uni Eropa yang melarang transaksi apa pun dengan Bank Sentral Rusia akan memiliki dampak yang jauh lebih besar pada fundamental kredit Rusia.
Setelah itu, kini cadangan internasional Rusia tidak dapat digunakan untuk intervensi valas.
"Sanksi juga dapat membebani kesediaan Rusia untuk membayar utang," Fitch memperingatkan. "Tanggapan Presiden Putin untuk menempatkan pasukan nuklir dalam siaga tinggi tampaknya mengurangi prospek dia mengubah arah di Ukraina ke tingkat yang diperlukan untuk membalikkan sanksi yang diperketat dengan cepat," jelasnya.
Pihaknya memperkirakan peningkatan sanksi lebih lanjut terhadap bank-bank Rusia.
Untuk sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat juga akan secara nyata melemahkan potensi pertumbuhan PDB Rusia relatif terhadap penilaian lembaga pemeringkat sebelumnya sebesar 1,6 persen.
Saat ini Rusia telah menerima sanksi secara signifikan, yang menyebebakan negara tersebut gagal membayar utang pemerintah dalam dolar dan pasar internasional lainnya.
BACA JUGA:Seminggu Bungkam, Rusia Akui Hampir 500 Tentaranya Tewas di Ukraina
Karena sanksi itu, Rusia menaikkan suku bunga acuannya menjadi 20 persen, dan melarang broker negaranya menjual sekuritas yang dipegang oleh orang asing.
Serta memerintahkan perusahaan-perusahaan pengekspor untuk menopang rubel dan mengatakan akan menghentikan investor asing menjual aset.
Selanjutnya, pemerintah juga berencana untuk memanfaatkan Dana Kekayaan Nasional (NWF), sebagai bantalan keuangannya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.