Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Fakta Harga Pertamax Naik, Erick Thohir Minta Maaf

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 04 April 2022 |03:37 WIB
4 Fakta Harga Pertamax Naik, Erick Thohir Minta Maaf
Erick Thohir minta maaf harga pertamax naik (Foto: Kementerian BUMN)
A
A
A

JAKARTA - Harga pertamax naik menjadi Rp12.500 pada 1 April 2022. Harga pertamax naik menyesuaikan harga minyak dunia yang semakin mahal sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Kenaikan harga pertamax mau tidak mau dilakukan agar keuangan Pertamina tetap terjaga. Sebab, selisih harga pertamax sebelum kenaikan dengan harga keekonomian yakni Rp16.000 sangat jauh. Hal ini membebani keuangan Pertamina.

Berikut adalah fakta kenaikan harga pertamax yang dirangkum Okezone, Senin (4/4/2022).

1. Erick Thohir Minta Maaf

Erick mengatakan, Pertamax bukan BBM yang disubsidi pemerintah, sehingga akan mengikuti harga pasar atau keekonomian secara global. Adapun harga keekonomian Pertamax maksimal Rp16.000 per liter.

"Ini pemerintah sudah memutuskan Pertalite dijadikan subsidi. Pertamax tidak. Kalau Pertamax naik, ya mohon maaf. Kalau Pertalite disubsidi, nanti 1 April tunggu saja," ungkap Erick.

2.Pertamax Naik Rp3.500

Harga Pertamax resmi naik Rp3.500 menjadi Rp12.500 per liter.

Harga Pertamax ini terakhir naik di tahun 2019.

"Mulai tanggal 1 April 2022 mulai pukul 00.00 waktu setempat, BBM Non Subsidi Gasoline RON 92 (Pertamax) disesuaikan harganya menjadi Rp12.500 per liter (untuk daerah dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor /PBBKB 5%), dari harga sebelumnya Rp9.000 per liter," kata Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina Commercial & Trading Irto Ginting.

3. Penyebab Harga Pertamax Naik

Alasan kenaikan Pertamax karena krisis geopolitik yang terus berkembang sampai saat ini mengakibatkan harga minyak dunia melambung tinggi di atas USD100 per barel.

Di mana hal ini pun mendorong harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) per 24 Maret 2022 tercatat USD114,55 per barel atau melonjak hingga lebih dari 56 persen dari periode Desember 2021 yang sebesar USD73,36 per barel.

"Menyikapi kondisi ini, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga harus tetap menjaga komitmen dalam penyediaan dan penyaluran BBM kepada seluruh masyarakat hingga ke pelosok negeri," jelas Irto.

4. Pertamina Rugi

PT Pertamina (Persero) bisa rugi hingga Rp150 triliun jika harga Pertamax tidak naik.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, Pertamina bisa rugi hingga Rp150 triliun jika harga Pertamax tidak dinaikkan. Apalagi, Pertamina juga memberikan subsidi terhadap Pertalite.

"Untuk RON 90 Pertalite di 2021 konsumsinya 24 juta kilo liter (KL). Selisih harganya, karena sekarang harga jualnya Rp7.650 per liter. Harga keekonomiannya disebutkan Rp12.000 - Rp13.000, jadi selisihnya cukup signifikan," ungkap Komaidi.

Untuk selisih harga Pertalite Rp1.000 per liter, paling tidak perusahaan harus menanggung subsidi Rp24 triliun. Jika selisihnya sekitar Rp4.000 hingga Rp6.000 per liter, maka totalnya bisa mencapai Rp144 triliun.

3. Penyebab Harga Pertamax Naik

Alasan kenaikan Pertamax karena krisis geopolitik yang terus berkembang sampai saat ini mengakibatkan harga minyak dunia melambung tinggi di atas USD100 per barel.

Di mana hal ini pun mendorong harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) per 24 Maret 2022 tercatat USD114,55 per barel atau melonjak hingga lebih dari 56 persen dari periode Desember 2021 yang sebesar USD73,36 per barel.

"Menyikapi kondisi ini, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga harus tetap menjaga komitmen dalam penyediaan dan penyaluran BBM kepada seluruh masyarakat hingga ke pelosok negeri," jelas Irto.

4. Pertamina Rugi

PT Pertamina (Persero) bisa rugi hingga Rp150 triliun jika harga Pertamax tidak naik.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, Pertamina bisa rugi hingga Rp150 triliun jika harga Pertamax tidak dinaikkan. Apalagi, Pertamina juga memberikan subsidi terhadap Pertalite.

"Untuk RON 90 Pertalite di 2021 konsumsinya 24 juta kilo liter (KL). Selisih harganya, karena sekarang harga jualnya Rp7.650 per liter. Harga keekonomiannya disebutkan Rp12.000 - Rp13.000, jadi selisihnya cukup signifikan," ungkap Komaidi.

Untuk selisih harga Pertalite Rp1.000 per liter, paling tidak perusahaan harus menanggung subsidi Rp24 triliun. Jika selisihnya sekitar Rp4.000 hingga Rp6.000 per liter, maka totalnya bisa mencapai Rp144 triliun.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement