Share

Harga Cabai, Minyak Goreng hingga Telur Terus Naik! Emak-Emak Jangan Kaget

Antara, Jurnalis · Kamis 07 April 2022 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 07 320 2574921 harga-cabai-minyak-goreng-hingga-telur-terus-naik-emak-emak-jangan-kaget-QXNXzbVxAF.jpg Tren Harga Minyak Goreng hingga Telur Terus Berlanjut. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Tren kenaikan komoditas minyak goreng, cabai merah, serta daging, dan telur ayam ras segar, masih berlanjut pada April.

“Ini tinjauan menggunakan dengan Big Data, sampai dengan kondisi 5 April kemarin, ada kecenderungan kenaikan untuk tiga komoditas ini,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono, dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis (7/4/2022).

BPS mencatat harga minyak goreng pada awal April kembali melejit, meskipun rata-rata harga minyak goreng mengalami penurunan pada Maret 2022, bahkan menjadi lebih tinggi dari kondisi rata-rata pada Januari 2022.

Baca Juga: Harga Pangan Serba Naik, Jokowi ke Menteri: Jangan Sampai Dianggap Masyarakat Tak Melakukan Apa-Apa

Kemudian untuk harga cabai merah, sejak Maret rata-rata harga cabai telah naik di pasaran dan masih bertahan hingga awal April dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda penurunan harga. Sedangkan harga daging dan telur ayam ras cenderung stabil dan tidak terlalu berubah signifikan.

Margo menyampaikan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi selama tiga bulan terakhir karena harga yang bergejolak akibat kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO). Secara rinci, inflasi minyak goreng pada Januari adalah 0,31% (yoy), Februari 0,20% (yoy) dan Maret 0,24% (yoy).

Baca Juga: Ini 'Biang Kerok' yang Bikin Harga Pangan Melonjak Naik, Siapa?

Dia memprediksi ada potensi kenaikan inflasi pada April 2022 sebagai efek dari kenaikan komponen administered prices, yakni penyesuaian harga LPG non-subsidi per 27 Februari, lalu penyesuaian BBM jenis Pertamax per 1 April 2022, serta penyesuaian PPN menjadi 11 persen per 1 April 2022.

“Ini tentu saja mempunyai potensi besar kepada kenaikan inflasi di April. Jadi ada demand yang polanya meningkat di puasa dan Lebaran serta ada kebijakan pemerintah yang berpotensi untuk terjadinya inflasi,” jelasnya.

Lebih lanjut Margo juga menuturkan kenaikan inflasi akan berdampak terhadap penurunan daya beli dan menekan konsumsi masyarakat yang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan beban pengeluaran masyarakat menengah ke bawah juga bertambah akibat kenaikan harga bahan pangan.

“Pola konsumsi masyarakat sebagian besar porsi belanjanya itu ke makanan. Jadi kalau inflasi pangan tidak bisa dikendalikan bisa dipastikan golongan bawah akan tertekan kesejahteraannya,” ucap dia.

Jika inflasi pangan berlangsung lama akibat berdampak ke kenaikan garis kemiskinan. Hal tersebut, kata dia, dikarenakan garis kemiskinan ditentukan oleh 74,05% makanan dan sisanya 25,95% non makanan. Sehingga jika inflasi pangan tinggi maka otomatis jumlah penduduk miskin bertambah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini