Share

Sri Mulyani Yakin Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Perang

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 13 April 2022 10:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 13 320 2578152 sri-mulyani-yakin-ekonomi-ri-tetap-kuat-di-tengah-perang-SuzL4I5cLg.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat. Hal ini didukung oleh kegiatan konsumsi masyarakat atau rumah tangga,investasi, serta dukungan belanja pemerintah.

Kinerja ekspor mengalami peningkatan sangat signifikan, namun, Sri mengingatkan bahwa tetap akan harus diwaspadai dengan adanya perkembangan perdagangan ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi global yang terancam akibat terjadinya perang Ukraina-Rusia.

"Sejumlah indikator ekonomi hingga awal Maret 2022 tercatat baik seperti Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan eceran, growth penjualan kendaraan bermotor, konsumsi semen dan listrik," ujar Sri dalam konferensi pers virtual Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu(13/4/2022).

Sementara itu, dari sisi eksternal, surplus neraca perdagangan pada bulan Februari 2022 meningkat mencapai USD3,83 miliar, ini didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan non-migas terutama dengan meningkatnya harga-harga komoditas global seperti batu bara, besi baja, serta CPO.

Dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global dan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik yang mengalami tekanan, dimana investasi portofolio mengalami nett outflow sebesar USD1,3 miliar sampai dengan tanggal 31 Maret 2022.

"Tekanan nett outflow ini bila dibandingkan dengan emerging market lainnya yang juga mengalami nett outflow masih relatif lebih rendah atau lebih baik," ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Sri, cadangan devisa Indonesia pada Maret 2022 tetap pada tingkat tinggi, yaitu mencapai USD139,1 miliar. Hal ini setara dengan pembiayaan 7,2 bulan kebutuhan impor atau 7,0 bulan kebutuhan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah.

"Standar ini berada di atas standar kecukupan internasional yang biasanya adalah sekitar 3 bulan kebutuhan impor. Jadi, lebih 2 kali lipat dari standar kecukupan internasional," pungkas Sri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini