Share

Kenaikan Harga BBM di Era Presiden Jokowi Paling Rendah, Setuju?

Athika Rahma, Jurnalis · Rabu 13 April 2022 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 13 320 2578433 kenaikan-harga-bbm-di-era-presiden-jokowi-paling-rendah-setuju-xfc2wm5I1G.jpg Kenaikan Harga BBM di Era Presiden Jokowi Paling Rendah. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kenaikan harga BBM di era Jokowi dinilai paling rendah dibanding rezim lain. Perhitungannya, kenaikan BBM saat ini hanya 16% berbeda dengan era kepemimpinan Soeharto yang naik 700% dan era SBY yang naik 259%.

Lantas, bagaimana sebenarnya penerapan kenaikan harga BBM di tiap periode kepemimpinan Presiden RI?

"Saya kira harga minyak ini bervariasi dan fluktuatif. Setiap presiden punya kebijakan yang berbeda, jadi agak sulit dibandingkan," ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (13/4/2022).

Baca Juga: Industri Ngeyel Masih Pakai BBM Subsidi, Menperin: Ada Sanksi Tegas!

Menurut data yang dikumpulkan Mamit, sejak April 1980, harga minyak sempat menyentuh level USD140,19 per barel. Setelah itu turun terus sampai USD27,54 pada Maret 1986.

Kemudian naik lagi ke level USD85,62 pada September 1990 turun terus sampai ke USD19,67 pada November 1998. Pada Juni 2008 kembali ke level USD183,96 fluktutif dan jatuh di April 2020 ke level USD21,12. Kemudian naik lagi sampai ke level USD100,28 pada Maret 2022.

Baca Juga: Ini Bukti Harga BBM Pertamina Termurah di Dunia

Oleh karenanya, penerapan harga produk turunan dari minyak termasuk BBM akan sangat tergantung dari kondisi minyak dunia. Selain itu, perbedaan kondisi di tiap periode kepemimpinan juga mempengaruhi penerapan kenaikan harga BBM.

"Misalnya dulu sebelum 2003 kita masih produsen minyak, tetapi setelah 2003 kita menjadi net importir. Beban keuangan dan penerimaan negara setiap rezim berkuasa berbeda-beda. Agak sulit kita dalam posisi yang objektif," ungkapnya.

Di sisi lain, subsidi BBM dan LPG juga mengalami naik turun seiring dengan kebijakan yang diterapkan.

Masih menurut penelusuran Mamit, pada 2022 subsidi BBM dan LPG mencapai Rp32 triliun, lalu turun menjadi Rp30 triliun pada 2003 dan naik pada 2004 menjadi Rp59 triliun. Angka terus berubah hingga mencapai yang tertinggi yaitu Rp240 triliun pada tahun 2014 dan pada tahun 2021, nilainya menjadi Rp83,7 triliun.

"Jadi berat memang keuangan negara ini," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini