Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sempat Kena Tipu, Mantan Karyawan Bank Ini Cuan Ratusan Juta Rupiah dari Jualan Madu

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 19 April 2022 |10:28 WIB
Sempat Kena Tipu, Mantan Karyawan Bank Ini Cuan Ratusan Juta Rupiah dari Jualan Madu
Mantan karyawan bank sukses raup cuan ratusan juta dari jualan madu. (Foto: Okezone)
A
A
A

MALANG - Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di Malang berkembang cukup positif selama awal tahun 2022 ini hingga triwulan pertama. Banyak produk dari UMKM yang sudah dipasarkan hingga nasional. Salah satu di antaranya UMKM pengolahan madu yang bernama Sarang Maduku.

Sudah dua tahun ini pengolahan madu yang dimiliki pemuda bernama Andoni Pridatama ini menuai sukses hingga penjualan tak kurang 6.000 produk setiap bulannya.

Sang pemilik Sarang Maduku mengisahkan awal mula dirinya memulai usaha mengelola madu.

 BACA JUGA:Berkah Ramadan Bikin Pengusaha Cincau Untung Besar, Penjualan 5 Kali Lipat

Menurutnya, awalnya dia merupakan karyawan dari salah satu bank di Kota Malang dengan masa bakti delapan tahun lamanya.

Di tengah kemapanannya ia ingin merasa jenuh menjadi karyawan dan ingin mencari tantangan baru.

Apalagi cita-citanya untuk berwirausaha akhirnya membuat tekad Doni bulat memulai usahanya pada 2018 sambil tetap bertahan menjadi karyawan.

"Awalnya saya tidak langsung jualan madu. Tapi sempat juga jualan buah durian sampai hijab. Namun kemudian saya bertemu dengan salah satu peternak lebah dan saat itu saya tertarik untuk menjadi peternak lebah madu," ujar Doni ditemui, di tempat usahanya di Jalan Ikan Gurame, Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang

Proses memulai usahanya disebutnya tak mudah, ia mengaku sempat tertipu oleh seorang oknum peternak lebah yang menawarinya.

Saat itu dirinya memiliki modal Rp20 juta untuk membeli 10 kotak yang dijadikan sarang lebah.

"Peternak itu menjanjikan bahwa setiap bulan madu akan dipanen dan bakal mendapat keuntungan dengan sistem bagi hasil. Tetapi setelah satu bulan pertama dirinya mendapati bahwa kotak lebah miliknya kosong dan hanya berisi sedikit lebah. Kondisi tersebut terjadi hingga lima bulan," ucapnya.

Saat ditelusuri, ternyata diketahui sebenarnya kotak-kotak lebih miliknya itu sudah beberapa kali panen.

 BACA JUGA:Kurangi Pengangguran, Masyarakat Diajarkan Bisnis Lele di Rumah

Tetapi hasil panen beberapa kali tidak pernah diberikan kepadanya, melainkan digunakan sendiri oleh oknum peternak lebah tersebut.

"Awalnya sempat down juga. Tetapi kemudian saya bertemu peternak lain di Pasuruan yang membantu saya bangkit hingga bisa berkembang sebagai peternak lebah madu," jelasnya.

Seiring waktu akhirnya usahanya mulai menunjukkan hasil, dirinya mengakui sempat kesulitan membagi konsentrasi antara meneruskan ternak lebah madu dengan memasarkannya.

Hal ini membuatnya memilih untuk fokus pada pemasaran dengan mengusung brand Sarang Maduku.

"Sekitar tahun 2020 saya memutuskan untuk fokus ke pemasaran madu saja. Kalau yang kami pasarkan ini masih murni dan tidak dicampur dengan bahan lain," jelas lulusan D3 Pemasaran Universitas Diponegoro itu.

Untuk menyuplai kebutuhan madunya, dia lantas bermitra dengan beberapa peternak lebah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Total hingga kini dirinya sudah memiliki tujuh mitra peternak lebah di dua provinsi itu.

Kini dengan tujuh mitranya itu, usaha pengolahan madu miliknya kian berkembang.

Pada awalnya hanya satu varian madu saja, tetapi kini telah memiliki 30 jenis varian madu yang ia pasarkan mulai dari madu murni, biasa atau kaliandra, multiflora, madu randu, kelengkeng, klanceng, rambutan dan ada satu varian baru yakni madu bawang lanang untuk pengobatan.

Madu - madu tersebut ia kemas berbeda dengan menggunakan botol kecil dan jerigen kecil dengan ukuran 125 ml hingga 1 kilogram, agar lebih menarik.

"Kami berusaha melakukan pengemasan yang semenarik mungkin menggunakan wadah botol hingga jerigen kecil. Kemudian setelah itu, bagian luarnya kami lapisi dengan plastic wrap agar lebih higienis. Kini sebulan kebutuhan madu kami mencapai 3 ton. Kebutuhan sebanyak itu dipenuhi dari mitra peternak," jelasnya.

Produk itu ia pasarkan melalui marketplace dan dijual secara online. Hasilnya kini dari di salah satu marketplace saja bisa mencapai 200 botol pesanan setiap harinya.

Pasar terbesar dari Sarang Maduku sejauh ini masih banyak di Pulau Jawa. Meski Doni juga menyebut bahwa ada juga beberapa kali pesanan ke luar Pulau Jawa.

"Harga paling murah mulai Rp18.000 untuk ukuran paling kecil hingga Rp240.000 untuk yang 1 kilogram. Omzet kami juga meningkat pesat sejak bergabung ke marketplace seperti Shopee. Pada saat awal memulai omzet bulanan kisaran Rp9 juta, kemudian naik hingga 500 persen," tandasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement