Namun perang Rusia di Ukraina ikut memberi dampak pada penyelenggaraan acara ini. Sejumlah negara, terutama yang tergabung dalam kelompok negara-negara maju G7 yaitu Amerika, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Uni Eropa, secara terang-terangan meminta Indonesia untuk tidak mengundang Rusia, dan mengisyaratkan tidak akan datang atau mengikuti pertemuan penting ini jika Rusia hadir.
Dalam pertemuan para Menteri Keuangan dan Kepala Bank Sentral di Washington DC Rabu lalu (20/4), tiga menteri keuangan, yaitu Menteri Keuangan Amerika Janet Yellen, Menteri Keuangan Kanada Chrystia Freeland, dan Menteri Keuangan Ukraina Serhiy Marchenko “walk out” atau keluar dari ruangan ketika perwakilan dari Rusia bicara. Sebagian lainnya yang mengikuti forum bergengsi ini secara virtual, mematikan kamera mereka.
Sri Mulyani, yang mengaku sudah mengetahui potensi adanya wakil-wakil yang “walk out” dalam pertemuan itu, mengatakan “memang aspirasi dari beberapa negara, terutama G7 dan beberapa negara lainnya, jadi ada sekitar 9-10 negara, menghendaki Rusia tidak diundang. Kita sebagai presidensi menyampaikan bahwa tujuan membentuk forum ini adalah untuk menjaga kerjasama karena dunia akan sangat membutuhkannya dalam menghadapi berbagai persoalan yang sifatnya tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja, meskipun ia paling powerful."
"Misalnya pandemi, gak mungkin negara seperti RRC atau Amerika menyelesaikannya sendiri. Atau climate change, yang memang menjadi ancaman bagi seluruh dunia. Tidak mungkin ada satu negara dapat menyelesaikan hal ini sendirian. Jadi dunia itu dihadapkan pada banyak ancaman yang hanya dapat diselesaikan melalui kerjasama. Oleh karena itu, ketika Indonesia menjadi Presidensi G20, kita bertanggungjawab untuk menjaga forum ini agar tetap utuh, tidak pecah, dan kerja sama tetap terjaga karena dunia justru makin membutuhkan kerjasama ini,” imbuhnya.
Konsensus Bersama
Lebih jauh Sri Mulyani mengatakan keinginan beberapa negara untuk mengisolasi Rusia karena invasi yang dilakukannya terhadap Ukraina, sedianya diputuskan bersama lewat suatu konsensus.
“Kalau pun ada keinginan seperti itu, harus disetujui oleh seluruh 20 anggota kelompok ini. Maka menuju pertemuan November nanti, kami terus melakukan konsultasi dengan semua anggota. Waktu itu ada yang menanyakan apakah Rusia akan tetap diundang, ya tentu akan tetap diundang wong dia anggota G20. Lalu kalau diundang, apakah dia akan datang secara fisik atau virtual, ya tentu tergantung dari Rusia sendiri," jelasnya.
"Lalu kalau datang, apakah akan diberi kesempatan berbicara, tentu akan diberi kesempatan berbicara. Jika ada sekelompok negara yang tidak bisa berada dalam satu ruang, atau satu meja, atau tidak bisa mendengar dan ingin menunjukkan sikap politik mereka, ya silahkan ketika Rusia bicara. Namun mereka juga mengatakan bahwa mereka akan tetap mendukung Indonesia untuk bisa meneruskan agenda-agenda yang sangat penting,” tegas Sri Mulyani.