Share

Ekspor Minyak Goreng Dilarang, Petani Sawit Bilang Begini

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Senin 25 April 2022 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 25 278 2584658 ekspor-minyak-goreng-dilarang-petani-sawit-bilang-begini-RxHG24fGPp.jpg Larangan Ekspor CPO dan Minyak Goreng. (Foto: Okezone.com/PTPN)

JAKARTA - Serikat Petani Kelapa Sawit sangat mendukung keputusan Presiden Joko Widodo menghentikan ekspor bahan baku minyak goreng/CPO dan minyak goreng. Serikat petani menilai kebijakan tersebut langkah tepat untuk membanjiri pasokan minyak goreng di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal SPKS Mansuetus Darto mengamini keputusan ini akan membuat masyarakat tak kesulitan memperoleh minyak goreng, tentunya dengan harga terjangkau.

Baca Juga: Ekspor Minyak Goreng Dilarang, Pengusaha: Jika Berdampak Negatif Mohon Dievaluasi

"Karena para pelaku usaha, selalu sibuk memikirkan suplai produk olahannya ke luar negeri karena menguntungkan dan mereka melupakan tugasnya memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Mansuetus Darto dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (25/4/2022).

Lebih lanjut Darto menyampaikan, beberapa hari belakangan ini pihaknya memantau harga tandan buah segar (TBS). Katanya, TBS di Sekadau, Kalbar, menurun Rp400/kilogram. Sementara di Jambi turun Rp500/kilogram

Baca Juga: Mengulas Jalan Panjang Polemik Minyak Goreng RI hingga Presiden Jokowi Larang Ekspor

Maka dari itu, Darto mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan pencatatan nama-nama petani yang memasok ke pabrik untuk menekan harga TBS.

Karena jika tidak, kejadian ini akan memberikan pundi-pundi uang alias menguntungkan pabrik karena saat situasi normal nanti, mereka akan menjual minyak sawit mentah dengan harga normal tetapi mereka membeli TBS dari petani dengan yang harga murah.

"Karena itu, pencatatan di pabrik harus jelas, sehingga keuntungan mereka tadi saat situasi normal bisa dikembalikan kepada petani uangnya. Ini solusi alternatif," ujar Darto.

Berkaca dari hal itu, menurut Darto alokasikan dana Sawit di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dengan program yang inovatif, misalnya dengan bantuan pupuk atau berdasarkan kebutuhan petani.

"Sebab kalau harga turun, petani tidak bisa membeli pupuk," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini