Share

Urbanisasi Bisa Jadi Ancaman Sektor Pertanian Indonesia, Kenapa?

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 27 April 2022 11:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 27 320 2585945 urbanisasi-bisa-jadi-ancaman-sektor-pertanian-indonesia-kenapa-l1GaJNK7EA.jpg Urbanisasi bisa ancam pertanian Indonesia. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau urbanisasi akan mengancam kelangsungan sektor pertanian dan perlu menjadi evaluasi pemerintah.

“Berkurangnya pekerja sektor pertanian usia produktif berdampak pada berkurangnya akses pada informasi dan adopsi teknologi yang berperan pada proses modernisasi pertanian,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi di Jakarta, Rabu (27/4/2022).

Azizah menjelaskan, urbanisasi akan memengaruhi produksi sektor pertanian karena jumlah pekerja sektor pertanian, yang kebanyakan berada di pedesaan, terus berkurang.

 BACA JUGA:Ungkap Mafia Bibit, Pakai Sertifikat Palsu Bikin Petani Gigit Jari

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase tenaga kerja informal pada sektor pertanian di 2021 mengalami penurunan sebesar 0.14 persen jika dibandingkan dengan 2020.

Meski tidak besar, bukan tidak mungkin jumlah tersebut terus menyusut mengingat adanya pengurangan restriksi pandemi pada 2022.

Hal ini membuka peluang yang lebih besar bagi tenaga kerja untuk kembali bekerja di perkotaan.

Azizah memaparkan, Survei Angkatan Kerja Nasional oleh BPS pada Agustus 2021 mencatat, terdapat 2.089.924 pekerja bebas berusia 19-40 tahun di sektor pertanian atau 36% dari total pekerja bebas di sektor tersebut.

"Jumlah ini lebih rendah jika dibandingkan dengan data Survei Angkatan Kerja Nasional pada Agustus 2020, di mana jumlah pekerja bebas berusia 19-40 tahun di sektor pertanian mencapai 2.159.964, atau 36,47% dari total pekerja bebas di sektor tersebut," terangnya.

Lanjut dia mengemukakan, penurunan pekerja sektor pertanian ini berpotensi memengaruhi produksi komoditas pangan nasional.

 BACA JUGA:Tingkatkan Ketahanan Pangan, Danrem 174/ATW Merauke Tanam Jagung Bersama Petani

Belum lagi permasalahan keterbatasan lahan yang berdampak pada produktivitas.

Penelitian CIPS menunjukkan produktivitas pangan nasional dikhawatirkan tidak mampu memenuhi jumlah permintaan pasar yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

"Kesenjangan antara jumlah produksi dengan jumlah permintaan inilah salah satunya yang menyebabkan tingginya harga komoditas pangan,” jelasnya.

Generasi muda yang tumbuh di pedesaan, khususnya mereka yang mendapatkan pendidikan sekolah secara formal, cenderung ingin mengejar pekerjaan yang berpotensi memberikan penghasilan yang lebih pasti, seperti pekerjaan yang umum terdapat di daerah perkotaan.

Menurut penelitian CIPS, ketidaktertarikan mereka pada pekerjaan seperti bertani yang digeluti orang tua mereka, di antaranya, karena minimnya kesempatan untuk mengembangkan diri dan tidak adanya peluang untuk mendapatkan kesejahteraan dari pekerjaan ini.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini