Share

Luhut-Ida Minta Pekerja Swasta WFH, Pengusaha Dukung tapi...

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 11 Mei 2022 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 11 320 2592284 luhut-ida-minta-pekerja-swasta-wfh-pengusaha-dukung-tapi-SkNjXANh0A.jpg Kadin dukung kebijakan WFH (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Pemerintah menyarankan pengusaha mengizinkan karyawannya WFH (bekerja dari rumah) pasca libur Lebaran. Menanggapi hal tersebut, Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia mendukung penuh kebijakan pemerintah yang menetapkan para ASN maupun karyawan swasta agar bekerja dari rumah atau WFH pasca libur Lebaran.

"Kami mendukung program pemerintah dalam mengurangi kepadatan lalu lintas arus mudik. WFH tentunya sudah tidak asing bagi para pekerja di sektor swasta semenjak pandemi COVID 19," kata Ketua Umum KADIN Indonesia, Arsjad Rasjid lewat keterangan resminya, Rabu (11/5/2022).

Menurut Arsjad penerapan WFH pasca libur Lebaran ini dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk menghindari kenaikan arus mudik selama pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah. Hal ini dikarenakan dengan diberlakukanya WFH dapat mengurangi aktivitas masyarakat di jalanan, sehingga mengurangi kemacetan.

Namun, kata dia, semua itu kembali lagi kepada peraturan perusahaan masing-masing karena tidak semua sektor usaha dapat disamakan.

"Terdapat beberapa perusahaan yang harus melakukan kegiatan operasionalnya secara langsung di tempat kerja, seperti perusahaan manufacturing, produksi, dan consumer goods. Maka dari itu, jenis perusahaan di atas tidak dapat diberlakukan WFH. Tetapi untuk jenis perusahaan seperti jasa, atau jenis pekerjaan tertentu seperti scientist, manajemen, back office dan semacamnya, dapat dilakukan WFH," jelas Arsjad.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Ketenagakerjaan, Adi Mahfudz Wuhadji menambahkan, hal ini juga harus disesuaikan dengan kebijakan internal masing-masing perusahaannya sendiri. Sebab, di setiap perusahaan terdapat SKP menteri yang harus ditaati bersama.

"Jika hanya sebatas himbauan untuk mengurangi kemacetan, tidak masalah selama semua itu dikomunikasikan antara pekerja dengan pengusaha agar tidak terjadi miss-communication," ujarnya.

Sambung Adi, pada dasarnya KADIN maupun Asosiasi lainnya juga tidak masalah sejauh hal tersebut tidak mengganggu efisiensi dan produktivitas pekerjaan itu sendiri.

Sebagai informasi tambahan, berdasarkan data dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk, 1,7 juta kendaraan keluar Jabodetabek sejak H-10 sampai H-1 Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Jumlah ini merupakan rekor lalu lintas tertinggi sepanjang sejarah mudik. Jumlah kendaraan naik 9,5 persen dibanding saat masa mudik sebelum pandemi tahun 2019 lalu.

Jasa Marga juga mencatat volume lalu lintas arus balik ke Jabodetabek dari arah timur Jawa tembus rekor mencapai 170.078 kendaraan pada H+4 Lebaran 2022. Jumlah tersebut melonjak 159 persen dari situasi normal pada 2021. Bahkan, mengalahkan rekor tertinggi sebelum pandemi yang sebesar 166.444 kendaraan pada Lebaran 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini