Share

Kasus Covid-19 Terkendali, Ekonomi RI Sudah Pulih Sepenuhnya?

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 13 Mei 2022 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 13 320 2593719 kasus-covid-19-terkendali-ekonomi-ri-sudah-pulih-sepenuhnya-EOKttvW4GA.JPG Kasus Covid-19 terkendali, ekonomi RI sudah pulih sepenuhnya? (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia terkini sudah semakin membaik.

Hal ini seiring terkendalinya pandemi Covid-19 di Indonesia, di mana kondisi kasus yang terus menurun.

“Kita bersyukur kita bisa mengelola ini dengan sangat baik dengan segala kerja keras yang sudah kita lakukan bersama-sama masyarakat dan juga pemerintah,” ujar Febrio dalam acara Tanya BKF di Jakarta, Jumat (13/5/2022).

 BACA JUGA:Korut Laporkan Kematian Pertama Covid-19

Dibandingkan dengan kondisi perekonomian di tahun 2019, dia mengatakan Indonesia adalah salah satu negara yang sudah keluar dan berada di atas kondisi pra-pandemi.

Sebagai contoh, di kuartal I 2022 ini, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah berada di atas rata-rata produk domestik bruto (PDB) di tahun 2019.

“Ini tentunya sangat menggembirakan. Artinya perekonomian kita terus pulih, terus semakin tinggi di atas level PDB 2019,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Febrio menyampaikan beberapa negara juga sudah menunjukkan arah pemulihan. Kondisi tersebut merupakan hal yang baik karena akan berdampak positif bagi Indonesia.

Namun, masih terdapat risiko yang mungkin harus dihadapi, misalnya kebijakan Zero Covid Policy dari Tiongkok dan geopolitik di Rusia.

“Risiko mungkin yang harus kita hadapi adalah beberapa negara, seperti Tiongkok yang menerapkan Zero Covid Policy itu mengakibatkan kontraksi di aktivitas manufakturnya. Sementara Rusia yang terkait dengan geopolitik itu masih dalam konteks kontraksi. Ini risiko yang masih harus kita hadapi dalam konteks perekonomian globalnya,” terangnya.

Selain itu, inflasi juga menjadi hal yang harus diperhatikan dan diantisipasi dengan baik.

Menurut dia, beberapa negara sudah melakukan kebijakan moneter yang cukup kuat.

Misalnya Brazil, Rusia, Meksiko, dan Afrika Selatan dalam merespon inflasi dengan kenaikan suku bunga acuannya. Sebaliknya, Amerika, walaupun inflasinya sudah di 8% keatas, tingkat suku bunga kebijakannya belum disesuaikan dengan cepat.

 BACA JUGA:Covid-19 Masih Mengancam, Jokowi Ajak Dunia Bangun Arsitektur Kesehatan Lebih Kuat

“Ini menjadi antisipatif bagi kita karena kita juga harus melihat bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga ini akan semakin cepat dalam beberapa bulan ke depan, sehingga dampaknya bagi perekonomian global dan domestik harus diantisipasi dengan baik,” jelasnya.

Sementara, saat ini kondisi inflasi di Indonesia masih relatif rendah bila dibandingkan dengan banyak negara, yaitu sebesar 3,5% di bulan April atau masih sejalan dengan outlook pemerintah.

Meski begitu, Pemerintah akan terus memitigasi dampak inflasi terhadap harga-harga komoditas, baik energi maupun bahan pangan.

Sehingga inflasi yang tertransmisi ke rumah tangga masih relatif bisa dikelola dengan baik.

“APBN sebagai shock absorber memastikan bahwa dampaknya terhadap daya beli masyarakat juga dapat dikelola dengan baik,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini