Share

Harga Kebutuhan Pokok RI Melambung, Bisa Picu Inflasi Naik?

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Selasa 17 Mei 2022 10:38 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 17 320 2595254 harga-kebutuhan-pokok-ri-melambung-bisa-picu-inflasi-naik-SQz2a2HpZE.JPG Harga kebutuhan pokok naik bisa picu inflasi? (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Edy Priyono mengatakan, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tidak terlepas dari dampak ketidakpastian global, baik yang dipicu pandemi Covid-19, konflik Rusia-Ukraina, dan berbagai kebijakan di negara maju, maupun faktor cuaca.

Akibatnya harga berbagai komoditas di pasar global naik, termasuk bahan pangan dan energi yang kemudian memicu kenaikan harga di dalam negeri di banyak negara.

"Jika kondisi ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi, penurunan daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, serta memberi tekanan fiskal. Mengingat APBN banyak digunakan untuk menyediakan dukungan bantalan sosial bagi masyarakat, khususnya kelompok tidak mampu" ujar Edy dalam keterangannya, Selasa (17/5/2022).

 BACA JUGA:Daftar Harga Kebutuhan Pokok, Daging Sapi Masih Tinggi

"Selain itu, pengurangan jumlah uang beredar di negara maju juga bisa menekan pasar keuangan melalui pelemahan rupiah, dan berisiko pada meningkatnya tingkat bunga," tambahnya.

Menurut Edy, di tengah berbagai risiko global yang muncul, perekonomian Indonesia mampu melanjutkan tren perbaikan yang konsisten.

Dia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan I 2022 sebesar 5,01 persen (year to year).

Pertumbuhan perekonomian tersebut, ungkap Edy, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik, tetap terjaganya kinerja ekspor, dan bergairahnya aktivitas ekonomi seputar lebaran.

"Perputaran ekonomi pada Idul Fitri juga ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan di Triwulan I," katanya.

Edy juga mencatat, meski terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, namun dari sisi demand, konsumsi rumah tangga justru tumbuh, yakni sebesar 4,34 persen (year to year), atau jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada triwulan IV 2021 sebesar 3,55 persen (year to year) .

Baca Juga: BuddyKu Fest: Challenges in Journalist and Work Life Balance Workshop

Follow Berita Okezone di Google News

Dia menilai, kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga didukung oleh kebijakan pelonggaran mobilitas, seiring dengan pandemi yang terkendali dan berlanjutnya akselerasi vaksinasi.

"Dan yang harus dicatat, juga karena percepatan penyaluran perlindungan sosial untuk memberikan dorongan bagi penguatan daya beli masyarakat," tegasnya.

Akan tetapi, lanjut Edy, penguatan konsumsi rumah tangga di sisi lain juga turut berkontribusi pada meningkatnya inflasi pada April 2022, sebesar 0,95 persen (month to month) atau 3,47 persen (year to year).

 BACA JUGA:Masalah Harga Minyak Goreng Dinilai Bisa Ganggu Ekonomi RI

"Tingginya inflasi tersebut juga bertepatan dengan momen Ramadhan 2022 yang secara siklus memang terjadi peningkatan permintaan," jelasnya.

Edy pun optimis prospek perekonomian Indonesia ke depan tetap kuat, karena pemerintah terus melakukan akselerasi dan perluasan vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang semakin luas.

"Serta memberikan berbagai stimulus berupa bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat," ucapnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini