Share

Ekspansi Industri Manufaktur RI Terhambat Lockdown Covid-19 di China

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 03 Juni 2022 12:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 320 2604916 ekspansi-industri-manufaktur-ri-terhambat-lockdown-covid-19-di-china-GYsUVDvd2f.jpg Industri Manufaktur Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kinerja manufaktur Indonesia pada Mei 2022 masih ekspansif. Tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang berada pada level 50,8, meski melambat jika dibandingkan dengan bulan lalu yang mencapai 51,9.

Melambatnya laju ekspansi sektor manufaktur dirasakan cukup merata baik di negara maju maupun berkembang seperti Filipina (54,1), Malaysia (50,1), India (54,6), Eurozone (54,6), dan Amerika Serikat (57,0), sementara PMI Manufaktur Tiongkok mengalami peningkatan ke level 48.1 meskipun masih dalam zona kontraksi.

Baca Juga: Ekspansi Industri Manufaktur RI Sangat Cepat dalam 8 Bulan Berturut-turut

“Disrupsi rantai pasok dan kebijakan restriksi Covid-19 di Tiongkok telah berdampak pada kinerja manufaktur di banyak negara mengingat besarnya kontribusi Tiongkok dalam rantai pasok global. Hal tersebut akan terus kami antisipasi agar risiko ini tidak menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia”, ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu di Jakarta, Rabu(3/6/2022).

Baca Juga: Indikator Ekonomi Meningkat, Presiden Jokowi: Indeks Manufaktur RI Lebih Tinggi dari Asean

Pertumbuhan permintaan baik domestik maupun ekspor masih terus meningkat. Sementara itu, penyerapan kerja juga masih terus terjadi seiring dengan ekspansi produksi. Meskipun demikian, konflik geopolitik yang tengah terjadi serta restriksi sosial di China karena pandemi menekan arus pasokan serta waktu pengiriman barang ke dalam negeri pada bulan Mei.

Kondisi ini menyebabkan tertahannya sektor manufaktur dalam mengoptimalkan kapasitas produksinya. Selain itu, harga barang input yang masih tinggi menambah tekanan pada pertumbuhan sektor manufaktur.

“Ke depan, manufaktur akan membaik seiring dengan relaksasi lockdown di Tiongkok. Kapasitas produksi manufaktur saat ini terus membaik dan mulai mendekati kapasitas produksi rata-rata pada periode prapandemi. Selain itu, intervensi pemerintah untuk mengendalikan harga juga sangat penting untuk menjaga berlanjutnya momentum pemulihan. Momentum kenaikan harga komoditas juga diharapkan memiliki dampak positif ke aktivitas dunia usaha secara umum”, lanjut Febrio.

Optimisme dunia usaha masih terjaga dengan terus stabilnya kondisi pandemi serta pemulihan permintaan yang terus menguat. Partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian pandemi Covid-19, termasuk program vaksinasi, efektif dalam memberikan daya tahan pada kondisi kesehatan masyarakat. Hingga 31 Mei 2022, vaksinasi dosis pertama dan kedua telah mencapai lebih dari 80%.

"Normalisasi aktivitas masyarakat juga terus terlihat seiring dengan peningkatan mobilitas yang telah pulih ke atas prapandemi pasca masa puncak varian Omicron dan relaksasi restriksi mobilitas bertahap yang sedang terjadi. Penguatan pemulihan ekonomi diharapkan terus terjadi untuk menambah resiliensi ekonomi domestik di tengah gejolak perekonomian global," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini