Share

Laju Inflasi Tinggi, Sri Mulyani Lakukan Apa?

Antara, Jurnalis · Jum'at 03 Juni 2022 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 320 2605100 laju-inflasi-tinggi-sri-mulyani-lakukan-apa-hIJ4q4jYgz.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan bahwa berbagai kebijakan pemerintah termasuk terkait stabilisasi harga dan bantuan subsidi akan mampu menjaga daya beli masyarakat dan inflasi.

“Tingkat inflasi domestik diharapkan terus terjaga sehingga mampu menjaga daya beli masyarakat,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu di Jakarta, Jumat (3/6/2022)

Pemerintah, lanjut dia, telah menambah alokasi subsidi dan kompensasi dalam APBN 2022 sebagai shock absorber yang semakin kuat untuk meminimalisasi dampak kenaikan harga komoditas energi dan pangan global.

Langkah ini sangat penting untuk memastikan tren pemulihan ekonomi Indonesia yang masih berada dalam tahap awal terus berlanjut.

Sementara untuk laju inflasi pada Mei 2022, melanjutkan tren peningkatan yang mencapai 3,55 persen dari April sebesar 3,47 persen dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2017.

“Itu dipengaruhi oleh tekanan harga komoditas global dan dampak dari kenaikan permintaan Lebaran,” ujar Febrio,

Inflasi yang secara bulan ke bulan tercatat menurun ke level 0,4 persen dari April 2022 sebesar 0,95 persen dengan komoditas pangan sebagai kontribusi terbesar.

Kemudian inflasi inti yang turun tipis menjadi 2,58 persen (yoy) dari April 2022 sebesar 2,6 persen didorong oleh daya beli masyarakat yang semakin pulih di tengah dampak kenaikan harga komoditas global.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Secara rinci, terdapat peningkatan inflasi pada komoditas jasa seperti rekreasi dan jasa restoran. Komoditas pangan juga mengalami kenaikan seperti, ikan segar dan roti manis.

Di sisi lain, terdapat perlambatan inflasi sandang dan perawatan pribadi seiring normalisasi permintaan setelah Lebaran.

Inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food pun kembali meningkat mencapai 6,05 persen (yoy) dari April 2022 sebesar 5,48 persen.

Beberapa komoditas yang meningkat antara lain telur dan daging ayam ras yang naik karena adanya peningkatan harga pakan serta bawang merah akibat minimnya pasokan dari sentra produksi.

Di sisi lain, kebijakan pelarangan ekspor CPO didukung dengan pengawasan distribusi yang semakin baik mampu mendorong penurunan harga minyak goreng.

Febrio mengingatkan, Indonesia perlu mewaspadai faktor musim kemarau basah yang mendorong penurunan produktivitas aneka cabai dan kenaikan harga pupuk. Hal itu dapat mendorong naiknya harga bahan pangan umum seiring pembatasan ekspor pangan dan pupuk di 10 negara.

Untuk inflasi harga yag diatur pemerintah atau administered price pada Mei 2022 bergerak stabil di angka 4,83 persen (yoy).

Inflasi tertinggi disumbang oleh tarif angkutan udara seiring momentum arus balik Lebaran dan hari libur. Selain karena peningkatan permintaan, kenaikan tarif juga dipengaruhi oleh penyesuaian akibat kenaikan biaya produksi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini