Share

India Krisis Listrik, Harga Batu Bara Acuan Naik 17% Jadi USD323/Ton

Athika Rahma, Jurnalis · Minggu 05 Juni 2022 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 05 320 2605814 india-krisis-listrik-harga-batu-bara-acuan-naik-17-jadi-usd323-ton-oe3QmzsJjp.jpg Harga Batu Bara Acuan Naik. (Foto: Okezone.com/PLN)

JAKARTA - Harga Batubara Acuan (HBA) naik 17% menjadi USD323,91 per ton dari USD275,64 per ton pada Juni 2022. Hal ini dikarenakan krisis listrik yang menimpa India akibat gelombang hawa panas turut mengerek permintaan batubara Indonesia.

"Pemerintah India telah meningkatkan jumlah impor batu bara dikarenakan ketatnya suplai batubara dari produsen domestik untuk pembangkit listriknya," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi, Minggu (5/6/2022).

Baca Juga: Terus Naik, Harga Batu Tembus di Atas USD400/Ton

Selain dari India, sambung Agung, nilai HBA juga masih dipengaruhi atas kondisi kebutuhan batubara Tiongkok.

"Permintaan mereka juga naik lantaran PLTU di sana mulai menumpuk stok batubara untuk musim gugur. Apalagi adanya kebijakan penghapusan pajak impor batubara di Tiongkok selama 9 bulan ke depan," jelasnya.

Baca Juga: Harga Batu Bara Rebound Jadi USD366,1/Ton

Faktor penting lain adalah kondisi geopolitik Eropa imbas konflik Rusia - Ukraina. Uni Eropa mengeluarkan kebijakan akan menyetop impor batubara dari Rusia efektif mulai bulas Agustus mendatang. "Pembeli dari Eropa mulai aktif mencari pasokan batubara dari Asia," singgung Agung.

Agung menguraikan selama enam bulan terakhir, grafik HBA terus menanjak. Dimulai dari bulan Januari 2022 sebesar US$ 158,50/ton, naik ke US$ 188,38/ton di Februari. Selanjutnya bulan Maret menyentuh angka US$ 203,69/ton, April sebesar US$ 288,40/ton, dan terakhir di bulan Mei lalu berada di level US$ 275,64/ton.

"HBA Juni ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batubara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel)," ujarnya.

HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Di samping itu, pemerintah juga menetapkan HBA domestik khusus kelistrikan sebesar USD70 per ton dan USD90 per ton diperuntukkan bagi HBA domestik untuk kebutuhan bahan bakar industri semen dan pupuk. "Ini menjaga daya saing industri domestik dan utamanya memastikan keterjangkauan hasil produksi industri bagi masyarakat," tutup Agung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini