Share

IMF Segera Turunkan Lagi Proyeksi Ekonomi Dunia, Jadi Berapa?

Antara, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2022 09:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 320 2609023 imf-segera-turunkan-lagi-proyeksi-ekonomi-dunia-jadi-berapa-2SgRKcjnyU.jfif IMF Akan Turunkan Lagi Proyeksi Ekonomi Dunia. (Foto: Okezone.com/Freepik)

WASHINGTON - Dana Moneter Internasional (IMF) akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022 di bulan depan. Hal ini menyusul langkah Bank Dunia dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk memotong perkiraan mereka sendiri minggu ini.

Jika proyeksi tersebut benar dikurangi, IMF sudah tiga kali melakukan penurunan proyeksi tahun ini. Pada April, IMF telah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global hampir satu poin persentase penuh menjadi 3,6% pada 2022 dan 2023.

Juru Bicara IMF Gerry Rice mengatakan, pada briefing reguler IMF bahwa prospek keseluruhan masih menyerukan pertumbuhan di seluruh dunia, meskipun pada tingkat yang lebih lambat, tetapi beberapa negara mungkin menghadapi resesi.

Baca Juga: Waspada! OECD Turunkan Prediksi Ekonomi Dunia Jadi 3%

"Jelas sejumlah perkembangan telah terjadi yang dapat membuat kami merevisi lebih jauh," kata Rice, dikutip dari Antara, Jumat (10/6/2022).

"Begitu banyak yang telah terjadi dan (sedang) terjadi dengan sangat cepat sejak terakhir kali kami datang dengan perkiraan kami," sambungnnya.

IMF akan merilis pembaruan untuk Prospek Ekonomi Dunia pada pertengahan Juli.

Baca Juga: Peringatan Bank Dunia Bikin Was-Was

Sebelumnya, Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya hampir sepertiga menjadi 2,9% untuk 2022, mengutip kerusakan yang bertambah dari invasi Rusia ke Ukraina dan pandemi COVID-19, sambil memperingatkan tentang meningkatnya risiko stagflasi.

Sehari kemudian, OECD memangkas perkiraannya sebesar 1,5 poin persentase menjadi 3,0% meskipun dikatakan ekonomi global harus menghindari serangan stagflasi gaya tahun 1970-an.

Rice mengatakan penurunan peringkat disebabkan oleh perang yang berkelanjutan di Ukraina, harga komoditas yang bergejolak, harga pangan dan energi yang sangat tinggi, dan perlambatan ekonomi China yang lebih parah dari yang diperkirakan, serta kenaikan suku bunga di sejumlah negara maju. Dia tidak memberikan rincian tentang prospek China.

"Kami melihat pertemuan krisis ini kombinasi dari semua hal ini menuju ke arah yang sama dari risiko penurunan yang terwujud," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini