Share

RUPST INCO, Vale Indonesia Tak Bagikan Dividen

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2022 18:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 278 2615634 rupst-inco-vale-indonesia-tak-bagikan-dividen-fBtHturThs.jpg INCO putuskan tak bagi dividen (Foto: Freepik)

JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memutuskan tidak membagi dividen atas laba tahun buku 2021. Keputusan ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) hari ini, Selasa (21/6/2022).

Kebijakan ini diambil meskipun laba bersih perseroan tumbuh 100,19% sebesar USD165,79 juta atau setara Rp2,36 triliun (Kurs tanggal pelaporan INCO akhir tahun 2021, Rp14.271).

Direktur Keuangan INCO, Bernardus Irmanto mengatakan perseroan sedang membutuhkan biaya untuk mendanai sejumlah proyek pertambangan komoditas nikel, sehingga sebagian besar dana itu digunakan untuk menambah modal kerja perseroan

"Ada beberapa pertimbangan mengapa kami akhirnya memutuskan tidak membagi dividen, salah satunya adalah karena akan ada kenaikan cash demand untuk mendanai proyek-proyek perseroan," kata Irmanto dalam Diskusi Media RUPS 2022, Vale Indonesia, Selasa (21/6/2022).

Sebagai informasi, INCO tengah menghadapi tantangan berupa ekspansi di dua lokasi Kontrak Karya, yakni di Blok Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Blok Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Di Blok Bahodopi, INCO menggandeng dua mitra kerja, yakni Taiyuan Iron & Steel (Grup) Co., Ltd (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology Co., Ltd (Xinhai) untuk mengelola fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah.

Fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah akan terdiri dari delapan lini Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan perkiraan produksi sebesar 73.000 metrik ton nikel per tahun beserta fasilitas pendukungnya.

Di Blok Pomalaa, PT Vale akan berkolaborasi dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) untuk mengembangkan fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara (Proyek HPAL Pomalaa).

Proyek HPAL Pomalaa akan menerapkan proses, teknologi dan konfigurasi HPAL Huayou yang telah teruji untuk memproses bijih limonit dan bijih saprolit kadar rendah dari tambang PT Vale di Pomalaa, untuk menghasilkan Produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan potensi kapasitas produksi hingga mencapai 120.000 metrik ton nikel per tahun.

Vale dan Huayou sepakat untuk tidak menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara captive sebagai sumber listrik dalam bentuk apapun untuk pengoperasian Proyek HPAL Pomalaa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini