Share

3 Tips Bagi Pendiri Startup Hadapi Fenomena Bubble Burst

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Jum'at 24 Juni 2022 08:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 24 622 2617254 3-tips-bagi-pendiri-startup-hadapi-fenomena-bubble-burst-VlKIHOjEpL.jpg Tips Hadapi Fenomena Bubble Burst Startup. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Para founder atau pemilik perusahaan rintisan (startup) waji mewaspadai fenomena bubble burst. Di mana banyak investor memindahkan asetnya dari perusahaan dengan pertumbuhan tinggi (high growth), dan mencari perusahan dengan aset yang aman seperti komoditas.

Oleh karena itu dalam menghadapi bubble burst ini, Founding Partner AC Venture Pandu Patria Sjahrir memberikan tiga tips untuk pendiri atau founder startup. Pertama, harus benar-benar lihat apakah bisnisnya mampu menghasilkan omzet atau tidak.

Baca Juga: Fenomena Bubble Burst Startup, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

"Ini kadang dianggap kita harus membeli pangsa pasar. Tapi yang paling penting adalah produk market fit-nya sudah pas atau belum? Jadi Anda harus bisa belajar beradaptasi yang sangat cepat untuk melihat 'Eh saya bisa gak ya menghasilkan profit dari bisnis saya sekarang ini?" kata Pandu, Jumat (24/6/2022).

Kedua, para founder juga harus bisa membaca dari sisi sentimen investor bahwa mereka tidak hanya cari perusahaan yang tumbuh (growth) saja. Investor pasti mencari keuntungan.

"Bisa gak Anda untung sekarang? Unit economic Anda bagaimana? Jadi itu juga harus dijadikan top of mind," ujarnya.

Baca Juga: Fenomena PHK Startup Bukan Hal Besar dan Biasa Terjadi di Perusahaan

Terakhir adalah para founder jangan terus menggantungkan diri pada pendanaan dari investor. Menurut Pandu, pendiri startup harus bisa menggunakan uang yang ada untuk terus diputar dan diinvestasikan ulang untuk pertumbuhan perusahaan mereka.

"Jadi kalau sekarang misal 'Oh saya harus (dapat pendanaan) seri A, seri B, seri C. Paling enak kalau bisa dari pre-seri A eh udah bisa loncat, nanti seri B, seri C. Bahasanya skip round, sebenarnya buat para shareholder, atau owner atau founder ini juga lebih bagus karena Anda punya equity lebih banyak di perusahaan Anda. Jadi Anda actually have a very good defensible business model," pungkas Pandu.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pandu mengatakan, banyak investor memindahkan asetnya dari perusahaan dengan pertumbuhan tinggi (high growth), dan mencari perusahan dengan aset yang aman seperti komoditas.

"Banyak yang lari ke komoditas, juga precious metal, kepada asset class yang lain. Nah untuk perusahaan teknologi yang sangat high growth dan benefit dari low cost environment itu mereka mengalami penurunan karena banyak investor lari," ujarnya.

Namun, lanjut Pandu, saat ini justru menjadi waktu yang sangat menarik untuk melihat perkembangan startup, karena masih adanya pertumbuhan di sektor teknologi.

"Apa sih yang berubah selama 4-5 bulan terakhir, karena pertumbuhannya masih ada. Banyak perusahaan sektor teknologi ini. Menurut saya sangat bagus untuk melihat nilai yang ada pada sektor teknologi," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini