Share

Apa Sih Soceng? Berikut 7 Fakta dan Tips Agar Uang Tidak Terkuras dengan Cepat

Feby Novalius, Jurnalis · Sabtu 25 Juni 2022 06:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 24 622 2617342 apa-sih-soceng-berikut-7-fakta-dan-tips-agar-uang-tidak-terkuras-dengan-cepat-OlP4fhg2Ff.jpg Waspada Kejahatan Soceng. (Foto: Okezone.com/Mint)

JAKARTA - Waspada soceng menjadi pembicaraan masyarakat belakangan ini. Pasalnya kejahatan social enginering (soceng) merugikan perbankan dan juga nasabah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian akibat soceng yang dialami bank umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar.

Lantas apa itu soceng dan apa yang perlu dilakukan agar terhindar dari modus kejahatan ini? Berikut fakta-fakta terkait soceng yang bisa diketahui, Sabtu (25/6/2022):

1. Apa itu Soceng?

Social engineering sendiri dapat diartikan sebagai tindakan memperoleh informasi nasabah seperti PIN, nomor baru, dan/atau informasi lain dengan cara menghubungi nasabah melalui telepon, SMS, atau media lain untuk menyampaikan informasi tertentu agar nasabah menghubungi nomor tertentu atau membuka situs web tertentu.

"Berdasarkan pengamatan kami, terdapat 4 modus soceng yang saat ini sedang marak di masyarakat, yaitu Info Perubahan Tarif Transfer Bank, tawaran menjadi nasabah prioritas, akun layanan konsumen palsu dan tawaran menjadi agen laku pandai," jelas Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo.

Baca Juga: Kejahatan Soceng Semakin Marak, Ratusan Nasabah Lapor ke OJK

Menurutnya pelaku social engineering terutama yang berasal dari eksternal Bank mengincar secara acak dengan memanfaatkan kelengahan dan ketidaktahuan nasabah. Namun sebagai contoh untuk modus penawaran menjadi nasabah prioritas, tentunya pelaku bisa memetakan potensi dana yang dimiliki oleh calon korbannya

2. Marak Soceng

Kejahatan social engineering (soceng) kini tengah marak di kalangan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menerima ratusan laporan dari nasabah terkait kejahatan soceng.

Baca Juga: Kejahatan Soceng Bikin Perbankan Rugi Rp246,5 Miliar

"Data sampai dengan 16 Juni 2022, pengaduan yang masuk ke OJK terkait dengan Fraud Eksternal (penipuan, pembobolan rekening, skimming, cyber crime) tercatat sebanyak 433 laporan dari total keseluruhan pengaduan sebanyak 5.940 laporan," jelas Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo.

3. Nasabah Dilarang Memberikan Data Ini

"Dari sisi masyarakat atau nasabah tentu harus meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap berbagai penawaran yang disampaikan melalui media termasuk media sosial atau aplikasi perpesanan," ujar Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo

Petugas Bank tidak akan meminta atau menanyakan Password, PIN, MPIN, OTP, atau data pribadi Anda. Cek Keaslian Telepon, Akun Media Sosial (pastikan akun terverifikasi atau ada tanda centang biru) , Email, dan Website Bank," jelasnya.

Masyarakat diimbau untuk tetap menyimpan uangnya di bank, tidak perlu risau dengan sistem keamanan bank. Sebab, modus operandi yang dilakukan pelaku umumnya memanfaatkan kelengahan nasabah dan bukan menjebol keamanan perbankan.

4. Soceng Bikin Rugi Bank dan Nasabah

Kejahatan social enginering (soceng) merugikan dua pihak yakni perbankan dan juga nasabah. Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo menyatakan bahwa kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar.

"Berdasarkan Laporan Strategi Antifraud yang disampaikan oleh perbankan ke OJK sampai dengan semester I 2021, kerugian riil yang dialami Bank Umum dilaporkan sebesar Rp246,5 miliar, sedangkan kerugian riil yang dialami Nasabah Bank dilaporkan sebesar Rp11,8 miliar," jelasnya.

5. Cara OJK Atasi Kejahatan Soceng

OJK sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk aparat keamanan dalam penanganan kasus-kasus kejahatan di sektor jasa keuangan. Selain itu OJK juga meminta masyarakat untuk dapat berpartisipasi melakukan pelaporan kepada pihak yang berwajib atau melakukan pengaduan konsumen melalui berbagai kanal yang dimiliki OJK antara lain melalui Kontak OJK 157, whatsaap 081157157157 atau email : konsumen@ojk.go.id.

Sementara itu, OJK juga mengungkapkan bahwa OJK telah menyusun menerbitkan Consultative Paper (CP) Keamanan Siber Bank Umum yang merupakan standar minimal yang harus dipenuhi Bank dalam menerapkan manajemen risiko keamanan siber, selanjutnya CP tersebut akan dituangkan jadi Peraturan OJK.

OJK sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk aparat keamanan dalam penanganan kasus-kasus kejahatan di sektor jasa keuangan. Selain itu OJK juga meminta masyarakat untuk dapat berpartisipasi melakukan pelaporan kepada pihak yang berwajib atau melakukan pengaduan konsumen melalui berbagai kanal yang dimiliki OJK antara lain melalui Kontak OJK 157, whatsaap 081157157157 atau email : konsumen@ojk.go.id.

Dengan ini Bank harus menerapkan kebijakan manajemen risiko keamanan siber antar lain memiliki program untuk meningkatkan kesadaran karyawan dan nasabah terkait kerentanan siber yang berkembang saat ini, misalnya social engineering dan cara melakukan pencegahannya, serta menetapkan proses penerimaan dan penanganan laporan kerentanan, termasuk penyediaan sarana bagi nasabah untuk membuat laporan kepada Bank, serta melakukan evaluasi efektivitas program dimaksud.

6. Saran Bank Indonesia

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengakui kalau kasus ini memiliki beragam modus.

Dia menyebut kalau keamanan terbesar dalam segala modus begal rekening ada di level konsumen.

Sehingga sosialisasi yang besar perlu dikencangkan untuk para konsumen bank.

"Yang pertama perlu edukasi, bahwa harus ada kesadaran masyarakat di mana dalam memberikan informasi pribadi itu sangat berbahaya," ujarnya.

7. Lapor Jika Terkena Soceng

Nasabah memiliki hak untuk mengadukan persoalan yang menimpanya.

"Setelah ditelusuri, jika kesalahannya ada dipenyelenggaraan jasa pembayaran atau penyelenggara keuangan maka bisa dilanjutkan ke pihak yang berwajib. Kami juga bekerja sama dengan polisi untuk menelusuri pengaduan terkait" ucapnya.

Dia menambahkan berdasarkan kasus yang masuk kesalahan masih banyak disebabkan oleh pihak nasabah yang menyebarkan informasi pribadinya sembarangan.

"Sebagian besar kelalaian ada disisi nasabah," ungkapnya.

Selain itu dia juga menyatakan bahwa pihak otoritas keuangan sudah bekerja sama dengan penegak hukum untuk mengindentifikasi indikasi kejahatan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini