Share

Pro Kontra Investasi Telkomsel di GOTO, Analis: Jangan Dinilai dari Jangka Pendek

Diana Purnamasari, Jurnalis · Kamis 30 Juni 2022 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 278 2621104 pro-kontra-investasi-telkomsel-di-goto-analis-jangan-dinilai-dari-jangan-pendek-doT4W7oFl3.jfif Polemik Investasi Telkomsel di GOTO. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Investasi Telkomsel di GOTO menuai pro dan kontrak. Ada yang khawatir dirugikan tapi ada yang yakin negara untung.

Menurut Assistant Professor Entrepreneurship and Technology Management Interest Group, Dina Dellyana, para raksasa telekomunikasi telah berinvestasi di berbagai startup dalam menopang pertumbuhan bisnis ke depan. Hal ini dilakukan karena bisnis utama perusahaan telco mengalami pertumbuhan yang melambat, stagnan, bahkan negatif.

Baca Juga: Polemik Investasi Telkomsel di GOTO, Komisi VI Panggil Analis

Stagnasi disebabkan oleh perang harga antara operator dan disrupsi yang berlangsung massif dari pelaku industri digital. Jadi, saat ini industri telekomunikasi global sedang mengalami masa sulit, dan masa depan akan semakin menantang.

Untuk menjaga pertumbuhan sekaligus menyelamatkan masa depan bisnis telekomunikasi maka salah satu caranya adalah mengembangkan ekosistem digital.

“Dalam konteks ini, investasi telkomsel di GoTo adalah pilihan yang sangat tepat dan bernilai strategis,” kata di hadapan Panja Komisi VI DPR RI, Kamis (30/6/2022).

Baca Juga: Investasi Telkomsel ke GOTO Dipertanyakan, Untung atau Rugikan Negara?

Dina menjelaskan investasi Telkomsel di GoTo sangat tepat karena memiliki expertise dan sumber daya yang saling melengkapi hingga mempercepat pertumbuhan keduanya.

“Investasi telkomsel di GoTo harus menjadi contoh bagi para BUMN lainnya untuk dapat memenangkan pasar dalam negeri dengan investasi pada startup dalam negeri. Jika Telkomsel tidak investasi di GOTO maka itu opportunity lost,” katanya.

Sementara itu, Kepala MNC Securities Edwin Sebayang menganalogikan investasi Philip Morris di PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) pada 2005.

“Banyak yang meragukan keputusan Philip Morris saat itu. Tapi waktu menjawab, hanya dalam kurun 5 tahun, investasi mereka sudah balik modal. Sekarang Philip Morris sudah untung besar dari keputusannya saat itu,” kata Edwin.

Selain dari capital gain dan dividen, Philip Morris juga menikmati added value dari akuisisi HMSP dalam bentuk sinergi bisnis sebagai pemain utama di industri rokok.

“Jadi, dalam berinvestasi, jangan dinilai dari jangka pendek. Perlu diperhatikan juga potensi bisnis yang tercipta dan sinergi yang dicapai,” kata Edwin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini