Share

Inflasi RI 2022 Diprediksi Tembus 3,98%

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Jum'at 01 Juli 2022 08:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 01 320 2621536 inflasi-ri-2022-diprediksi-tembus-3-98-2Ollw5U9qh.jpg Inflasi 2022 diprediksi 3,98% (Foto: Halomoney)

JAKARTA - Inflasi Indonesia sepanjang 2022 diyakini dapat terkendali di tengah kecamuk krisis rantai pasokan global. Research Analyst BNI Sekuritas, Maxi Liesyaputramengatakan pemerintah mampu meramu strategi untuk bertahan dari gempuran sentimen luar, seiring dengan pemulihan ekonomi domestik dari wabah Covid-19.

"Kita perkirakan inflasi akan terkendali di antara 3,42% - 3,98% sampai akhir tahun," kata Maxi dalam media gathering 'Market Outlook Semester II-2022', dikutip Jumat (1/7/2022).

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan data inflasi terbaru pada awal Juli 2022. Data Mei 2022 mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 3,55% (yoy).

Menurut Maxi kegiatan ekonomi dalam negeri sedang berangsur pulih menyusul geliat aktivitas masyarakat saat pelonggaran pembatasan. Seiring dengan hal itu, tingkat konsumsi diperkirakan akan ikut meningkat.

"Namun memang kita tetap waspada, kasus-kasus virus baru masih ada, cuma memang saat ini jauh dari tahun 2020," ujarnya.

Maxi menilai pemerintah mampu menjaga stabilitas harga dari tekanan. Fundamental makro juga dinilai cukup bagus untuk merespons gejolak mancanegara, kendati api konflik Rusia-Ukraina masih membara.

"Kita lihat juga pemerintah tidak menaikkan harga BBM, meskipun harga minyak mentah sempat melambung, pemerintah juga tidak menaikkan listrik, jadi paling tidak mudah-mudahan inflasi akan terkendali," tuturnya.

Pada bulan lalu, BPS mencatat bahwa secara bulanan inflasi IHK Mei 2022 sebesar 0,40% (mtm), atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,95% (mtm).

Semerbak wangi optimisme tidak serta merta membuat aktivitas ekonomi kembali seperti sedia kala. Maxi mewaspadai ketidakpastian ekonomi global dapat membuat rupiah kian terpukul, mengingat lonjakan permintaan dolar Amerika Serikat.

Data Bloomberg pada penutupan perdagangan di pasar spot Kamis (30/6) menunjukkan rupiah melemah 0,34% menjadi Rp14.903 per dolar AS.

"Rupiah memang sempat terjaga di Rp14.800an, cuma masih bisa bertahan di sana. Kalau sampai bergerak di atas Rp15.000, maka ini waspada," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini