Share

Tenang! Indonesia Tidak Akan seperti Sri Lanka Bangkrut, Berikut Indikatornya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 14 Juli 2022 07:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 14 320 2629258 tenang-indonesia-tidak-akan-seperti-sri-lanka-bangkrut-berikut-indikatornya-oVJKDDXtgn.jpg Sri Lanka Merupakan Salah Satu Negara yang Bangkrut. (Foto: Okezone.com/AFP)

JAKARTA - Krisis ekonomi Sri Lanka menjadi peringatan dan pelajaran bagi Indonesia untuk menjaga ekonomi di tengah tekanan global, seperti kenaikan harga energi dan pangan.

Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk dalam sejarah yang menyebabkan negara tersebut bangkrut.

Namun, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo mengatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat secara struktur. Dari sisi ekonomi, Indonesia memiliki kualitas PDB dan struktur ekonomi yang kuat.

Diikuti penerimaan pajak negara yang berkelanjutan, utang terkendali serta industri manufaktur yang cukup baik.

"Misalnya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan isu-isu yang muncul di Sri Lanka adalah kondisi kita tahun 1998," katanya, dilansir dari BBC Indonesia, Kamis (14/7/2022).

Baca Juga: Pengunjuk Rasa Serbu Kantor, PM Sri Lanka Perintahkan Militer Lakukan Apapun untuk Pulihkan Ketertiban

Walau demikian, pemerintah tetap, "mewaspadai dinamika ekonomi global dan geopolitik."

Senada dengan Yustinus, Direktur eksekutif dari lembaga Center of Reform on Economics, CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, kemungkinan Indonesia mengalami seperti Sri Lanka masih sangat jauh, jika dilihat dari berbagai indikator.

"Untuk resesi, saya rasa masih jauh, tapi yang mungkin terjadi peningkatan risiko berupa melambat atau tertahannya pertumbuhan ekonomi jika kondisi ini terus terjadi," katanya.

Indikator pertama adalah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi di Indonesia 4,35% (yoy) dan 3,19% (Januari-Juni 2022). Angka itu timpang secara drastis dengan inflasi di Sri Lanka yang sudah mencapai 50%, bahkan disebut berpotensi mencapai 80%.

"Kondisi inflasi Indonesia masih sangat moderat dibandingkan Sri Lanka," kata Faisal.

Baca Juga: Ini yang Harus Dilakukan Indonesia agar Tak seperti Nasib Sri Lanka

Indikator kedua adalah neraca perdagangan Indonesia yang surplus karena topangan komoditas yang harganya kini meningkat, yaitu batu bara dan kelapa sawit.

Dua komoditas yang kini sangat terdampak secara global adalah di bidang pangan dan energi.

"Kita net-importer minyak bumi, tapi kita net-exporter CPO sawit, minyak bumi, dan juga terbesar untuk batu bara. Jadi ini menolong Indonesia karena harga internasional tinggi," ujar Faisal.

Sebaliknya, Sri Lanka itu net-importer energi sehingga ketika mengalami peningkatan luar biasa harganya di internasional, mereka yang paling terpukul dibandingkan negara seperti indonesia."

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Faisal juga menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia positif, yaitu 5,01% pada kuartal I tahun 2022.

"Kita tidak akan sampai ke sana (seperti Sri Lanka). Asalkan kebijakan yang merespon kondisi global itu, cepat. Jadi gabungan antara kebijakan moneter dan fiskal saling sinergi sehingga dampak buruk dari ekonomi global bisa diredam di dalam negeri," kata Faisal.

Walaupun demikian, Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Rachbini meminta pemerintah untuk waspada dan responsif terhadap gejolak global, terutama ancaman stagflasi.

Stagflasi adalah kondisi di mana perekonomian mengalami inflasi yang tinggi, namun pertumbuhan ekonomi stagnan bahkan menurun.

"Konflik Rusia-Ukraina berkepanjangan terus mendorong naik harga energi dan pangan sehingga terjadi inflasi di negara-negara maju, termasuk kita," kata peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Rachbini.

Eisha menambahkan, "dengan harga meningkat, produsen menanggung biaya lebih besar dalam produksi yang membuat mereka berkontraksi, mengurangi produksi. Ini menjadi ancaman besar secara global, menimbulkan stagflasi," katanya.

Bank Dunia melalui laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2022 memperingatkan terjadinya resesiekonomi yang disertai dengan inflasi yang tinggi (stagflasi), dipicu oleh pandemi Covid-19 ditambah adanya konflik Rusia dan Ukraina.

Untuk itu Eisha meminta pemerintah untuk berhati-hati dan cermat melakukan pengelolaan perekonomian dengan melakukan relokasi subsidi yang tepat guna meredam inflasi.

"Situasi global tidak menentu karena ada stafgasi. Negara-negara maju akan melakukan hal sama, menaikan suku bunga, sehinga gejolak eksternal itu juga perlu diperhatikan," ujarnya.

Di antaranya adalah Bank Sentral AS telah menaikan suku bunga sebesar 75 basis poin. Kemudian, Bank Sentral Rusia sebesar 200 basis poin. Begitu juga Pakistan 125 basis poin dan Bank Sentral Malaysia sebanyak 25 basis poin.

Sementara itu, Bank Indoneisa belum melakukan peningkatan suku bunga acuan, dengan menjaga di level 3,5%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini