Share

Wall Street Gagal Menguat Gegara Saham Energi Rugi

Antara, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 07:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 278 2642351 wall-street-gagal-menguat-gegara-saham-energi-rugi-sVgHiTLnCa.jpg Wall Street Berakhir Beragam. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Bursa saham AS, Wall Street berakhir dua arah di akhir perdagangan Kamis. Hal ini karena kenaikan saham-saham dengan pertumbuhan tinggi mengimbangi kerugian pada saham-saham energi.

Investor juga menantikan laporan pekerjaan bulanan untuk petunjuk tentang laju kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 85,68 poin atau 0,26% menjadi 32.726,82 poin. Indeks S&P 500 menyusut 3,23 poin atau 0,08% menjadi 4.151,94 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 52,42 poin atau 0,41% menjadi 12.720,58 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah positif, dengan sektor konsumer non-primer dan teknologi masing-masing menguat 0,54% dan 0,42% melampaui sektor lainnya. Sementara itu, sektor anjlok 3,59% merupakan kelompok dengan kinerja terburuk seiring dengan jatuhnya harga minyak.

Nasdaq yang sarat teknologi mencapai level tertinggi baru tiga bulan yang dipimpin oleh Amazon.com Inc dan Advanced Micro Devices, sementara kerugian dalam saham energi termasuk Exxon Mobil dan Chevron Corp membebani S&P 500.

Baca Juga: Wall Street Bervariasi Imbas Ketua Dewan AS Nancy Kunjungi Taiwan

Kekhawatiran tentang ekonomi global yang melambat mendorong harga minyak ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada Februari dan imbal hasil obligasi AS tergelincir setelah bank sentral Inggris (BoE) memperingatkan resesi yang panjang.

Laporan perolehan laba yang kuat dan kenaikan mengejutkan dalam aktivitas sektor jasa telah mengirim indeks utama naik tajam di sesi sebelumnya.

Baca Juga: Wall Street Turun Usai Sempat Naik Tertinggi Sejak 2020

"Pasar mencari arah setelah pemantulan kuat yang menghilangkan pesimisme mendalam yang telah merasuki pasar," kata Kepala Strategi Investasi BMO Wealth Management, Yung-Yu Ma, dikutip dari Antara, Jumat (5/8/2022).

"Banyak tanda yang menunjukkan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya dan pertanyaannya sekarang adalah seberapa cepat inflasi akan turun atau apakah komponen yang lebih lekat akan membuatnya tetap lebih tinggi daripada yang nyaman bagi The Fed," ujarnya.

Fokus pada Jumat akan berada pada laporan ketenagakerjaan AS yang diawasi ketat, yang diperkirakan menunjukkan data penggajian non-pertanian (NFP) meningkat 250.000 pekerjaan bulan lalu, setelah naik 372.000 pekerjaan pada Juni.

Tanda-tanda kekuatan apa pun di pasar tenaga kerja dapat memicu kekhawatiran akan langkah agresif The Fed untuk mengekang inflasi.

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester, anggota pemungutan suara dari panel penetapan suku bunga, menegaskan kembali perlunya melihat beberapa bulan inflasi turun menuju target Fed 2,0% sebelum pembuat kebijakan dapat berhenti dari pengetatan kebijakan moneter.

Indeks S&P 500 telah naik sekitar 14% dari posisi terendah pertengahan Juni, tetapi masih turun sekitar 13 persen untuk tahun ini di tengah kekhawatiran seputar dampak perang Ukraina, inflasi yang melonjak, gejolak COVID-19 di China dan kenaikan agresif dalam suku bunga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini