Share

Minyak Anjlok Jadi USD88,5/Barel, Harga BBM Bakal Turun?

Antara, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 320 2642356 minyak-anjlok-jadi-usd88-5-barel-harga-bbm-bakal-turun-Wzqqqz3RJB.jpg Harga Minyak Mentah Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak turun ke level terendah sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina di Februari. Hal ini karena pedagang resah atas kemungkinan resesi ekonomi tahun ini yang dapat menghambat permintaan energi.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September kehilangan USD2,12 atau 2,3% menjadi USD88,54 per barel di New York Mercantile Exchange, penyelesaian pertama di bawah ambang USD90 per barel sejak 2 Februari.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Menguat 6,6% dan WTI Naik 4,1% di Minggu Ini

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober merosot USD2,66 atau hampir 2,8% menjadi USD94,12 per barel di London ICE Futures Exchange, penyelesaian terendah sejak 18 Februari.

Kemunduran harga terjadi setelah aksi jual di pasar minyak, dengan standar harga minyak mentah AS dan Brent masing-masing anjlok 4,0% dan 3,7% pada Rabu (3/8/2022).

Data yang dirilis menunjukkan lonjakan stok minyak mentah AS pekan lalu, memicu kekhawatiran atas pelemahan permintaan.

Baca Juga: Rusia Ancam Hentikan Pasokan Minyak ke Pasar Global

Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah negara itu meningkat 4,5 juta barel selama pekan yang berakhir 29 Juli. Para analis yang disurvei oleh S&P Global Commodity Insights memperkirakan penurunan 1,7 juta barel dalam pasokan minyak mentah.

"Tampaknya pelemahan dari Rabu (3/8/2022) menyusul permintaan bensin tersirat AS yang lebih lemah dari perkiraan, bersama dengan terobosan level dukungan teknis pada Kamis (4/8/2022), telah menyeret minyak lebih rendah," kata Analis UBS, Giovanni Staunovo, dikutip dari Antara, Jumat (6/8/2022).

Prospek permintaan tetap diliputi oleh meningkatnya kekhawatiran tentang kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa, tekanan utang di negara-negara berkembang, dan kebijakan nol COVID-19 yang ketat di China, importir minyak terbesar dunia.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, pada Rabu (3/8/2022) memutuskan akan meningkatkan produksi sebesar 100.000 barel per hari untuk September.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini