Share

Erick Thohir Khawatir Tingginya Impor Baja RI hingga 10,2 Juta Ton, Ini Dampaknya

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2022 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 320 2642395 erick-thohir-khawatir-tingginya-impor-baja-ri-hingga-10-2-juta-ton-ini-dampaknya-Vw28rn6HPn.jpg Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Okezone.com/KBUMN)

JAKARTA - Impor baja Indonesia sangat tinggi mencapai 10,2 juta ton per tahun. Di sisi lain, produksi baja nasional tercatat meningkat.

Menteri BUMN Erick Thohir menilai, masifnya importasi baja berdampak pada kemandirian industri baja dalam negeri. Adapun produsen baja milik negara saat ini adalah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Sebagai bahan baku utama pembangunan infrastruktur, impor baja justru menguras atau memboros uang negara, lantaran nilai yang digelontorkan jauh lebih tinggi dibandingkan menggunakan baja produksi dalam negeri.

Baca Juga: Selain Beras, RI Tak Lagi Impor Jagung

"Impor baja di Indonesia kurang lebih 10,2 juta ton. Dan produksi kita terus meningkat, tentu kemandirian industri baja dalam negeri ini juga harus menjadi perhatian, kenapa? Karena baja ini merupakan bahan baku utama dalam pembangunan infrastruktur, pembangunan perumahan, properti, dan lain lain. Kalau ini impor kan sayang, kita punya pemasukan sebagai negara," ungkap Erick dalam sesi wawancara bersama iNews, dikutip Jumat (5/8/2022).

Pemerintah, lanjut Erick, berupaya menguatkan ekosistem baja nasional melalui terintegrasi dari hulu dan hilirnya. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menggodok KRAS untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM), teknologi, hingga kapasitas produksinya.

Baca Juga: BPS: Impor RI Juni 2022 Naik 21,9%

Inilah alasan KRAS dan Pohang Iron and Steel Company (Posco) menambah nilai investasi sebesar USD3,5 miliar atau setara Rp52 triliun. Erick yakin kerja sama tersebut akan memperkokoh ekosistem baja nasional.

"Nah inilah kenapa yang kemarin dengan Posco, sebenarnya Krakatau Steel dan dan Posco sudah bekerja sama, sudah sangat lama, tetapi kita ingin terintegrasi hulu dan hilirnya, karena tadi masih punya potensi baja nasional yang kita masih bisa meningkatkan produksinya, sehingga ketergantungan kita pada baja impor bisa kita kurangi," tutur dia.

Erick mencatat Posco melihat keberhasilan transformasi Krakatau Steel yang sukses membalikkan kondisi perusahaan dari rugi menjadi untung, dari perusahaan konvensional menjadi modern.

Bahkan perusahaan asal Korea Selatan itu, mengapresiasi langkah transformasi Krakatau Steel melalui restrukturisasi utang, perbaikan arus kas, efisiensi, dan proses bisnis yang baik.

"Bayangkan bertahun-tahun, delapan tahun rugi terus, tapi tahun lalu Krakatau Steel sudah bisa untung Rp800 miliar," katanya.

Bagi Erick peningkatan kerja sama investasi tak sekadar memperkuat daya saing BUMN, melainkan juga mampu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi secara nasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini