“Kuartal dimana ada bulan Ramadhan dan Idul Fitri itu biasanya menjadi kuartal dengan pertemuan ekonomi yang relatif baik karena ada pola seasonal di sana,” ujar Yusuf.
Selain itu Yusuf menuturkan APBN turut mempunyai peranan terutama dalam menjadi penjaga untuk daya beli masyarakat kelompok miskin sehingga mereka tetap bisa melakukan konsumsi di tengah berbagai tingginya harga komoditas.
Di sisi lain ia menyebutkan dorongan APBN ini tidak sebesar tahun lalu mengingat realisasi belanja negara sempat terkontraksi 0,8 persen (yoy) pada Mei yaitu dari Rp945,7 triliun menjadi Rp938,2 triliun.
“Ini menunjukkan dorongan ataupun efek multiplier yang diberikan oleh APBN ke perekonomian tidak sebesar tahun lalu,” tegas Yusuf.
Sebagai informasi Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,44 persen (yoy) pada kuartal II-2022 yang berasal dari kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) maupun PDB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).
PDB ADHB pada kuartal II-2022 tercatat Rp4.919,9 triliun atau meningkat dari kuartal II-2021 yang sebesar Rp4.176,4 triliun sementara PDB ADHK membaik dari Rp2.772,9 triliun di kuartal II-2021 menjadi Rp2.923,7 triliun pada kuartal II-2022.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.