Share

Harga Mi Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Mentan Minta Maaf

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Senin 08 Agustus 2022 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 320 2644114 harga-mi-instan-bakal-naik-3-kali-lipat-mentan-minta-maaf-XCPv9bTg1m.jpg Mentan Syahrul Yasin Limpo. (Foto: MPI)

JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melihat adanya dampak perang antara Rusia - Ukraina terhadap rantai pasok bahan makanan ke Indonesia.

Ketergantungan impor komoditas yang dihasilkan oleh negara tersebut bakal membuat kenaikan harga produk di dalam negeri.

Mentan menjelaskan saat ini pasokan gandum Ukraina yang menjadi bahan baku pembuatan mi instan mengalami masalah.

 BACA JUGA:Mi Instan Indonesia Ditolak di Taiwan Gegara Kandungan Sisa Pestisida

Di mana saat ini terdapat kurang lebih 180 juta ton gandum di Ukraina tidak bisa keluar negara.

"Jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, besok harganya 3 kali lipat itu, maafkan saya, saya bicara ekstrem saja ini," ujar Mentan dalam webinar bersama Ditjen Ditjen Tanaman Pangan, Senin (8/8/2022).

Mentan menyebut ketersediaan gandum dunia sebetulnya ada, namun adanya konflik global yang membuat masalah pada rantai pasok menjadi mahal.

"Ada gandumnya, tetapi harganya akan mahal bangat, sementara kita impor terus ini, kalau saya jelas tidak setuju, apapun kita makan saja, seperti singkong, sorgum, sagu," kata Mentan.

Menurutnya, hal ini memang bukan tantangan yang yang kecil, sehingga pemerintah daerah perlu menguatkan produktivitas pertanian.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sehingga dampak yang bakal dialami dari adanya konflik global tidak terlalu parah.

Bukan hanya Gandum, masalah lain yang datang akibat konflik global tersebut adalah tersendatnya pasokan pupuk ke Indonesia.

Terlihat saat ini Indonesia juga menjadi importir pupuk dan Rusia maupun Ukraina.

"Di Ukraina dan Rusia juga pemasok pupuk terbesar dunia, karena ada posfat, kalium yang terbesar, dan harga naiknya pupuk di dunia 3 sampai 5 kali lipat dari harga sekarang karena persolan konektivitas yang tidak tidak berjalan normal," jelas Mentan.

Untuk masalah ini, Mentan meminta petani maupun akademisi untuk memanfaatkan pupuk organik.

Sebab adanya konflik tersebut bakal membuat harga pupuk menjadi mahal.

"Kalau tunggu pupuk subsidi pasti tidak bisa itu, kita adaptasi dengan cara kita, banyak orang yang sukses tanpa menggunakan pupuk subsidi," lanjut Mentan.

"Semua kearifan lokal, misalnya air dicampur terasi, dicampur doa ternyata hasilnya bagus, kita coba pikir seperti itu, saya berharap cara memupuk harus kita perbaiki, harus bisa, jangan tunggu pupuk turun, yang ada di dunia adalah krisis pupuk," pungkas Mentan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini