Share

5 Fakta Ekonomi Tahun Depan Diramal Gelap, Berikut Dampak yang Wajib Diwaspadai

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Minggu 14 Agustus 2022 04:50 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 320 2647081 5-fakta-ekonomi-tahun-depan-diramal-gelap-berikut-dampak-yang-wajib-diwaspadai-ojPGjlE0oL.jpg Ekonomi Dunia Tahun Depan Diramal Gelap. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA Ekonomi tahun depan gelap. Pernyataan Presiden Jokowi ini mengejutkan banyak kalangan dan menyita perhatian.

Presiden Jokowi menjelaskan tahun depan akan gelap merujuk kepada kondisi ekonomi global mengkhawatirkan. Sehingga timbul proyeksi tahun depan diprediksi gelap.

Berikut fakta-fakta ekonomi tahun depan diprediksi gelap yang dirangkum di Jakarta, Minggu (14/8/2022).

1. Kata Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan kalau menurut beberapa lembaga internasional ekonomi dunia akan semakin gelap di tahun 2023.

Baca Juga: Ekonomi 2023 Dunia Gelap, Strategi Bansos Diperbanyak hingga Kenaikan Suku Bunga BI

Gelapnya dunia ini disebabkan oleh berbagai ketidakpastian global yang terjadi, mulai dari risiko inflasi hingga ketegangan geopolitik.

"Kita akan mengalami volatilitas pasar keuangan pada tahun depan, yang memang akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini. Risiko-risiko tersebut memang tidak terelakkan," ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Dialog Economic Update CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

2. Beberapa Risiko yang Harus Diwaspadai

Jokowi menyebutkan bahwa ada beberapa risiko yang harus diwaspadai. Sebelumnya, dunia sudah menghadapi risiko pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir.

Baca Juga: Ekonomi Dunia 2023 Diramal Gelap, Ekonom Sebut Perfect Storm Tapi Indonesia Beruntung

Namun, saat ini ada risiko yang berasal dari ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina.

"Ini yang menyebabkan sejumlah harga komoditas naik cepat sekali di tingkat dunia, tapi karena volatilitasnya tinggi, perencanaannya pun sulit," jelasnya.

Situasi tersebut dikhawatirkan justru akan memicu terjadinya inflasi, yang kemudian akan mendorong kenaikan harga sejumlah barang.

"Secara garis besar, fundamental ekonomi nasional masih dalam kondisi positif, namun ada beberapa risiko tersebut di tingkat global yang harus diwaspadai," pungkasnya.

3. Sri Mulyani Desain APBN 2023 untuk Hadapi Ekonomi Dunia Gelap

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan desain RAPBN Tahun 2023 dalam situasi di mana perekonomian global sedang gelap karena mengalami guncangan dan gejolak, serta adanya ketidakpastian yang sangat tinggi.

Oleh karena itu, APBN 2023 akan dirancang agar mampu menjaga fleksibilitas dalam mengelola gejolak perekonomian dan ketidakpastian global yang terjadi.

“Ini kita sering menyebutkan sebagai shock absorber. Namun, di sisi lain Bapak Presiden juga meminta agar APBN tetap dijaga supaya tetap kredibel dan sustainable atau sehat, sehingga ini adalah kombinasi yang harus dijaga” tandas Sri, Selasa (9/8/2022).

4. Pada 2022 Dunia Diproyeksikan Alami Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan, pada 2022 dunia akan diproyeksikan mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi, sementara inflasinya meningkat.

Hal ini didukung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) yang telah menurunkan proyeksi ekonomi global dari 3,6% ke 3,2% untuk tahun ini dan dari 3,6% menjadi 2,9% untuk tahun 2023.

“Ini artinya bahwa lingkungan global kita akan menjadi melemah, sementara tekanan inflasi justru meningkat. Menurut IMF, tahun ini inflasi akan naik ke 6,6% dari sisi di negara maju, sementara inflasi di negara-negara berkembang akan pada level 9,5%,” jelasnya.

5. Respons Ekonom

Ekonom sekaligus Direktur Celios Bhima Yudhistira mengungkapkan, ekonomi dunia menghadapi badai yang sempurna atau perfect storm.

"Perfect storm itu di mana inflasi tinggi terjadi di berbagai negara yang membuat daya beli menurun," ujarnya kepada Okezone, Selasa (9/8/2022).

Padahal, lanjut Bhima, konsumsi masyarakat baru sembuh dari pandemi. Biaya bahan baku berbagai jenis industri kembali meningkat, ditambah dengan meluasnya konflik geopolitik ke negara seperti Taiwan. Hal ini memicu gangguan rantai pasok yang signifikan.

"Industri manufaktur yang kontribusinya 20% dari PDB sulit untuk bertahan. Ujungnya adalah kebangkrutan massal," tuturnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini