Share

Ekonomi 2023 Dunia Gelap, Strategi Bansos Diperbanyak hingga Kenaikan Suku Bunga BI

Feby Novalius, Okezone · Rabu 10 Agustus 2022 04:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 09 320 2644660 ekonomi-2023-dunia-gelap-strategi-bansos-diperbanyak-hingga-kenaikan-suku-bunga-bi-yA3FHscs7u.png Strategi Bansos Perlu Diperbanyak untuk Hadapi Ekonomi Dunia Gelap. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Ekonomi dunia 2023 diramal gelap. Demikian pernyataan mengejutkan Presiden Jokowi usai bertemu para pemimpin lembaga dunia sekelas PBB, IMF dan World Bank.

Kendati demikian, Jokowi mempertegas bahwa kondisi ini bukan terjadi semata di Indonesia, tapi banyak negara di dunia dalam kondisi yang tidak mudah.

Baca Juga: Ekonomi Dunia 2023 Diramal Gelap, Ekonom Sebut Perfect Storm Tapi Indonesia Beruntung

Dalam menghadapi sulitnya ekonomi di tahun depan, Ekonom sekaligus Direktur Celios Bhima Yudhistira mengusulkan beberapa hal agar Indonesia selamat dari terpaan global

Pertama, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) melakukan beberapa langkah jangka pendek. Pertama, melakukan stres test terhadap perbankan, asuransi dan lembaga keuangan lain terutama berkaitan dengan dampak resesi di AS, keluarnya modal asing dan kenaikan suku bunga yang eksesif (Fed rate naik >4 kali setahun).

Kedua, segera menaikkan suku bunga 50 bps sebagai langkah pre-emptives hadapi tekanan inflasi di semester ke II 2022. Ketiga, memperbaiki jaring pengaman sistem keuangan terutama skenario Bail in.

Baca Juga: Sri Mulyani Desain APBN 2023 untuk Hadapi Ekonomi Dunia Gelap

"Kemudian (ketiga) tambah negara mitra LCS (local currency settlement) dan beri insentif lebih besar bagi pelaku usaha ekspor agar menukar devisa dolar dengan Rupiah. Kelima, tingkatkan serapan investor domestik dalam SBN untuk cegah volatilitas akibat keluarnya investor asing di pasar obligasi," tuturnya, saat dihubungi Okezone, Rabu (10/8/2022).

Bhima, melanjutkan langkah ke empat, pemain utama harus berada di depan yakni, BI, OJK dan Kemenkeu. Sinergi antar ketiganya penting.

"Hubungan fiskal-moneter harus kompak jangan ada ego sektoral yang hambat harmonisasi kebijakan," tuturnya.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Selain naikkan suku bunga, dan penyesuaian GWM. Bank Indonesia, kata Bhima, bisa meningkatkan LTV khusus misalnya LTV hijau untuk dorong permintaan properti yang berkelanjutan. Tujuannya, ada program-program kreatif untuk dorong sisi permintaan dalam negeri.

"BI-OJK juga harus koordinasi agar bank cepat lakukan transmisi penurunan suku bunga kredit sebelum era suku bunga rendah berakhir. Bunga yang masih rendah harus dimanfaatkan untuk pacu penyaluran kredit khususnya ke sektor produktif (pertanian, industri manufaktur, konstruksi)," ujarnya.

Sementara itu, kelima, alokasi subsidi energi dan pangan idealnya bisa ditambah dua kali lipat, dengan catatan pengawasan diperketat. Pangan harus diamankan dari indikasi terjadinya krisis pangan secara global. Lalu, jaring pengaman sosial saat pandemi (PEN) jangan terburu-buru dipangkas atau distop.

"Tambah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari 10 juta jadi 15 juta keluarga penerima untuk lindungi 40% pengeluaran terbawah dari gejolak kenaikan harga pangan. (Keenam), Perkuat penerbitan utang dengan bunga yang relatif murah. Dominasi SBN dalam utang cukup berisiko karena yield-nya terus meningkat," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini