Share

Kemandirian Pangan RI Terancam, Ini Bukti-buktinya

Feby Novalius, Okezone · Selasa 16 Agustus 2022 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 320 2648885 kemandirian-pangan-ri-terancam-ini-bukti-buktinya-IMEKGwOErg.jpg RI Terancam Krisis Pangan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kemadirian pangan Indonesia terancam. Sejumlah faktor menunjukan bukti bahwa defisit pangan di Indonesia akan terjadi.

Ketua DPR RI Puan Maharani pun membeberkan faktor-faktor akan terjadinya defisit pangan, Di antaranya, Indonesia terus mengalami degradasi tenaga kerja sektor pertanian dari tahun ke tahun.

Alih fungsi lahan pertanian, dan produktivitas tanaman pangan rakyat tidak cukup berkembang untuk menopang kemandirian pangan.

“Resiko kita mengalami defisit pangan akan jauh lebih besar,” ujarnya, dalam rangka Pidato Presiden RI pada penyampaian keterangan pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang APBN 2023 beserta Nota Keuangannya, Selasa (16/8/2022).

Baca Juga: Tuntutan DPR pada RAPBN 2023, Lindungi Daya Beli dan Sejahterakan Rakyat

Kemudian, suplai pangan yang sebagian bertumpu pada impor membawa kerentanan yang serius. Risiko atas pasokan yang berakibat pada kelangkaan stok dan kenaikan harga, serta risiko gejolak kurs mewajibkan kita membayar lebih mahal.

“Supply stock pangan dan energi dunia akibat konflik geopolitik global harus menjadi pelajaran serius kita dalam meningkatkan kemandirian pangan dan ketahanan energy nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Ketua DPR Ingatkan Kemampuan Keuangan Negara di 2023

Perlahan, lanjut Puan, Indonesia harus mulai mengurangi kecanduan ekspor komoditas. Kita perlu memperkuat kebijakan investasi yang diarahkan pada menguatnya industri nasional dalam mengelola nilai tambah komoditas ekspor.

Pesatnya perkembangan teknologi, seiring dengan tuntutan global terhadap ekonomi yang ramah lingkungan akan mendorong penggunaan teknologi baru dalam pengelolaan Sumber Daya Alam.

“Politik pembangunan harus memiliki prinsip pembangunan berkelanjutan terhadap pengelolaan Sumber Daya Alam<’ ujarnya.

Inovasi teknologi dan perkembangan science akan membuat dunia kedepan menjalani perubahan yang lebih cepat. Kita menghadapi level playing field yang tidak sama dalam hal kemajuan teknologi. Negara-negara maju mencapai beberapa langkah kedepan dalam pencapaian inovasi teknologi di banyak bidang.

“Menghadapi ini semua, tidak ada pilihan bagi kita untuk tidak investasi besar-besaran pada Sumber Daya Manusia (SDM).,” ujarnya.

Kita perlu fokuskan sistem pendidikan keahlian pada science, technology, engineering, dan mathematics (STEM) untuk mengantisipasi kebutuhan dan disrupsi pasar tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi. Namun fondasi pendidikan dasar anak-anak kita terkait budi pekerti, gotong-royong, berbudaya luhur haruslah tetap menjadi ruh dan identitas jiwa bangsa.

Sebagai negara yang berpenduduk terbesar ke-empat dunia, maka Indonesia menjadi sasaran pasar yang sangat potensial. Tentu kita tidak ingin hanya menjadi sasaran pasar dari produk luar. Kita perlu memperkuat upaya dan kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan industri nasional dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Upaya ini dapat dimulai dari Belanja APBN dan APBD yang semakin banyak menggunakan produk dari industri nasional,” tuturnya,

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini