Mayoritas datang dari kenaikan biaya bahan baku sebanyak 24,06% mencapai Rp102,09 miliar. Ongkos energi baik listrik, gas, dan, air ikut membengkak, ditambah biaya perbaikan, perawatan, hingga pengolahan limbah. Alhasil, ini menambah total biaya pokok produksi senilai Rp140,02 miliar.
Dari sisi beban penjualan, biaya transportasi juga naik mencapai Rp2,67 miliar. Kendati ada penurunan di beban umum-administrasi, kenaikan pajak penghasilan membuat SWAT menerima rugi tahun berjalan senilai Rp818,65 juta pada paruh pertama 2022.
Dengan demikian, SWAT mencatatkan rugi per saham dasar senilai Rp0,27, berubah dari laba pada periode tahun sebelumnya sebanyak Rp0,26 dikutip dari laporan keuangan perseroan di keterbukaan informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (22/8/2022).
Neraca perseroan hingga akhir Juni 2022 menunjukkan ada kenaikan total aset sebanyak 4,49% senilai Rp715,70 miliar, dari akhir 2021 sebanyak Rp684,89 miliar.
Kewajiban pembayaran/liabilitas SWAT membengkak 7,92% sebesar Rp430,12 miliar, sedangkan modal/ekuitasnya terkoreksi 0,26% di angka Rp285,58 miliar.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.