Dia mengatakan, konstitusi jelas mengatakan bahwa tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, hingga seterusnya.
"Apakah dengan kita mengeluarkan segitu banyak uang dari pusat hingga daerah, apakah kemiskinan berkurang signifikan dan konsisten? Kalau dulu misalkan dulu kemiskinan 10%, setelah sekian ribu triliun kita buang, apakah kemiskinan jadi sisa 4-5%? Kan tidak pernah terukur bolak balik segitu. Apakah pengangguran berkurang signifika? Juga tidak," tegas Ahmadi.
Dia menyebutkan bahwa selalu berani mengatakan kalau masih begini sistem pembuatan APBN.
Serta dia pun telah membicarakannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara empat mata.
"Kalau bapak memimpin begini dan tidak ada perubahan total, Indonesia tidak akan bisa maju. Saya berani mengatakan itu, karena semuanya ini mubazir, tidak semua Kementerian/Lembaga(K/L) berjalan atau melangkah yang sama menuju satu tujuan yaitu kesejahteraan nasional, semua K/L, saya berani mengatakan dengan pengalaman saya bahwa banyak sekali uang negara itu mubazir," papar Ahmadi.
Hal ini karena K/L dinilainya banyak melakukan tumpang tindih kegiatan yang mubazir dan tidak sesuai porsinya.
"Jadi itu semua harus diubah. Kalau tidak dan tetap begini, apapun yang kita berikan anggaran itu, beribu-ribu triliun tidak akan berdampak apa-apa. Sudah berapa sekarang dari beberapa periode Kepresidenan? Saya mengalami sejak zaman Pak Harto soalnya," pungkas Ahmadi.
(Zuhirna Wulan Dilla)