Share

Jadi Calon Anggota BPK, Ahmadi Noor Sebut Negara Buang Uang Rp2.000 Triliun

Michelle Natalia, Sindonews · Senin 19 September 2022 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 19 320 2670342 jadi-calon-anggota-bpk-ahmadi-noor-sebut-negara-buang-uang-rp2-000-triliun-yDLtgdkgLw.JPG Ahmadi Noor. (Foto: YouTube/TV Parlemen)

JAKARTA - Fit and Proper Test sembilan Calon Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI digelar pada hari ini, Senin (19/9/2022).

Adapun dari sembilan calon anggota BPK, empat di antaranya merupakan politisi. Ada tiga nama dari Partai Golkar, yaitu Ahmadi Noor Supit, Izhari Mawardi, dan Abdul Rahman Farizi dan satu dari Partai Demokrat yaitu Wahyu Sanjaya.

Lima nama lainnya adalah Nugroho Agung Wijoyo (Kementerian Keuangan), Rachmat Manggala Purba (Konsultan), Tjipta Purwita (Mantan Dirut Inhutani), Dori Santosa (BPK), Erryl Prima Putera Agoes (Kejaksaan Agung).

 BACA JUGA:Target Investasi Naik tapi Anggaran BPKM Dipotong, Bahlil: Beban Kerja Naik

Ahmadi Noor merupakan calon pertama yang melalui tes tersebut.

Ketika ditanyakan soal komitmen dia jika terpilih sebagai BPK yang bebas dan mandiri, dia merespon terlebih dahulu bahwa dia sudah lama bergaul dengan rekan-rekan di Banggar DPR RI hingga Komisi XI.

"Teman-temanlah yang menginginkan saya ke BPK pada saat itu, sehingga saya tidak berupaya untuk melanjutkan di DPR. Kenapa teman-teman menginginkan saya di BPK? Karena selalu saya katakan di Komisi ini, dan bahkan sejak jaman pak Harto, saya selalu mengatakan bahwa apabila sistem keuangan negara seperti ini, baik dulu sebagai Ketua Banggar, maupun Ketua Komisi XI, saya sampaikan Rp2.000 triliun itu kita buang-buang ke laut," ujar Ahmadi siang ini.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dia mengatakan, konstitusi jelas mengatakan bahwa tujuan negara adalah melindungi segenap bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, hingga seterusnya.

"Apakah dengan kita mengeluarkan segitu banyak uang dari pusat hingga daerah, apakah kemiskinan berkurang signifikan dan konsisten? Kalau dulu misalkan dulu kemiskinan 10%, setelah sekian ribu triliun kita buang, apakah kemiskinan jadi sisa 4-5%? Kan tidak pernah terukur bolak balik segitu. Apakah pengangguran berkurang signifika? Juga tidak," tegas Ahmadi.

Dia menyebutkan bahwa selalu berani mengatakan kalau masih begini sistem pembuatan APBN.

Serta dia pun telah membicarakannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara empat mata.

"Kalau bapak memimpin begini dan tidak ada perubahan total, Indonesia tidak akan bisa maju. Saya berani mengatakan itu, karena semuanya ini mubazir, tidak semua Kementerian/Lembaga(K/L) berjalan atau melangkah yang sama menuju satu tujuan yaitu kesejahteraan nasional, semua K/L, saya berani mengatakan dengan pengalaman saya bahwa banyak sekali uang negara itu mubazir," papar Ahmadi.

Hal ini karena K/L dinilainya banyak melakukan tumpang tindih kegiatan yang mubazir dan tidak sesuai porsinya.

"Jadi itu semua harus diubah. Kalau tidak dan tetap begini, apapun yang kita berikan anggaran itu, beribu-ribu triliun tidak akan berdampak apa-apa. Sudah berapa sekarang dari beberapa periode Kepresidenan? Saya mengalami sejak zaman Pak Harto soalnya," pungkas Ahmadi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini