Share

Banyaknya Insiden Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol, Standar Pelayanan Dipertanyakan

Heri Purnomo, iNews · Senin 19 September 2022 17:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 19 320 2670693 banyaknya-insiden-kecelakaan-beruntun-di-jalan-tol-standar-pelayanan-dipertanyakan-Lq3oMOo2zi.png Kecelakaan di Jalan Tol. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Kecelakaan beruntun kembali lagi terjadi di Tol Pejagan-Pemalang, Jawa Tengah (Jateng). Kecelakaan melibatkan setidaknya 13 kendaraan dan hampir semua mobil ringsek.

Insiden terjadi pada Minggu 18 September 2022, sekitar pukul 14.00 WIB di ruas Jalan tol ruas Pejagan-Pemalang KM 253A, Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes.

Adapun kecelakaan tersebut diduga disebabkan adanya asap pekat dari pembakaran rumput di samping jalan tol, sehingga mengganggu pandangan pengemudi.

Baca Juga: 13 Mobil Tabrakan Beruntun di Tol Pejagan-Pemalang

Menanggapi hal tersebut, Kordinator Indonesian Toll Road Watch (ITRW) Deddy Herlambang mendorong Badan Pengawas Jalan Tol (BPJT) dan Bandan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk mengedepankan standar pelayanan minimun (SPM) jalan tol.

Hal tersebut diperlukan untuk mengantisipasi tingginya angka keecelakaan lalu lintas di jalan tol. Sehingga tidak selalu memantau kelancaran lalu lintas tol saja.

"Kami akan terus bersama-sama dengan stakeholder lain senantiasa mengingatkan kepada Pemerintah (BPJT) dan BUJT ( operator jalan tol ) untuk selalu mengedepankan SPM," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (19/9/2022).

Baca Juga: Ayah Wagub Jatim Hermanto Dardak Meninggal Kecelakaan, Simak 7 Tips Usir Kantuk saat Mengemudi

Deddy menyatakan bahwa standar pelayanan minimun jalan tol yang berlaku saat ini belum menyampaikan kebersihan asap di jalan tol, bagaimana bila ada paku, tumpahan olie, masyarakat yang suka melempar ke jalan tol juga belum ada di SPM tersebut.

"Untuk persoalan tersebut SPM jalan tol nomer 16/PRT/M/2014, sudah sewaktunya direvisi karena sudah terlalu lama alias tidak mutahir lagi. Sebaiknya SPM jalan tol ditinjau setiap 3 tahun sekali karena sudah ada perubahan panjang tol, volume kendaraan dan tuntutan perbaikan kualitas SPM," katanya.

"Setelah SPM ditinjau kembali tiap 3 tahun tentunya ada hasil keluaran dapat direvisi atau tidak," tambahnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Selain itu, Deddy juga mempertanyakan fungsi dan tugas patroli jalan tol yang setiap jam lalu-lalang di ruas jalan tol kenapa tidak melihat asap yang ada di area jalan tol.

"Mempertanyakan fungsi dan tugas patroli jalan tol yang setiap jam lalu-lalang di ruas jalan tol, mengapa tidak melihat asap tebal di jalan tol itu. Apakah sudah tepat patroli jalan tol melakukan pengawasan di jalan tol tersebut, apakah malah tidak melakukan tugas patroli pada saat itu?," katanya.

Dia juga mempertanyakan CCTV yang seharusnya juga ada di jalan tol sebagai pemantau kepadatan volume kendaraan jalan tol, apakah tidak melihat asap tebal seperti itu?

Menurutnya, apabila sistem pengawasan jalan tol tidak bekerja dengan baik, maka otomatis tiada early warning system ( EWS ) di jalan tol. Dan itu diperlukan adanya evaluasi dari pihak pemerintah.

"Mendesak BUJT untuk lebih ketat dalam pengawasan terhadap operator-operator jalan tol agar tidak abai dalam pelayanan keselamatan di jalan Tol, dan Sudah saat nya Pemerintah ( diwakili BPJT ) bersama dengan BUJT ( operator jalan tol) menetapkan “service level agreement” (SLA) yang siap open public," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini