Share

Jangan Kaget! Bayar Cicilan Rumah Bisa Lebih Mahal

Iqbal Dwi Purnama, Okezone · Jum'at 23 September 2022 15:58 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 470 2673676 jangan-kaget-bayar-cicilan-rumah-bisa-lebih-mahal-6VBfh35TZz.jpg Siap-Siap! Bayar Cicilan Rumah Bisa Lebih Mahal

JAKARTA - Masyarakat jangan kaget jika membayar cicilan rumah lebih mahal dari biasanya. Hal ini disebabkan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%, dengan suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility menjadi 5%.

Kenaikan suku bunga acuan BI bakal memberikan dampak untuk sektor properti Tanah Air.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan, pengumuman suku bunga acuan itu juga akan berimbas pada perbankan selaku penyalur kredit untuk menaikan bunga pinjaman.

BACA JUGA: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 4,25% 

Sehingga dampak pengumuman suku bunga acuan BI itu kemungkinan bakal membuat perbankan mengalami penyesuaian untuk bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR).

"Kenaikan bunga KPR mungkin 0,25%," ujar Panangian saat dihubungi MNC Portal, Jumat (23/9/2023).

Menurut Panangian, kemungkinan perbankan juga tidak mau mengambil risiko yang cukup besar dengan menaikan bunga KPR yang tinggi, karena bakal berpengaruh terhadap respons pasar.

Sebab kenaikan bunga ini bakal mempengaruhi penyaluran likuiditas perbankan khususnya di sektor properti. Karena masyarakat bakal berfikir ulang atau menunda pembelian properti jika harus membayarkan bunga yang terlalu tinggi.

 

Selain itu, sebelum adanya pengumuman suku bunga acuan BI, harga properti juga mengalami penyesuaian akibat adanya kenaikan harga material bahan bangunan dan ongkos energi. Solar yang menjadi bahan bakar untuk membawa material saja naik sekitar 32%, BBM bersubsidi lain seperti pertalite juga bersamaan menyusul keniakan sekitar 31%.

Menurut Panangian, menjadi cukup riskan untuk bisnis usaha perbankan maupun pengembang jika melakukan penyesuaian bunga yang tinggi untuk sektor properti.

"BI memberikan kebijakan atau signal kepada bank untuk sama-sama bertindak bijak, kalau (suku bunga) 0,5% diterima (bank), paling disampaikan kepada konsumen 0,25%, atau setengahnya," kata Panangian.

Direktur Eksekutif CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira menambahkan kenaikan bunga KPR akan berdampak pada lebih jauh pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena sektor properti menjadi semacam lokomotif yang menarik banyak sektor industri dibelakangnya. Bukan hanya membangun rumah, tetapi membutuhkan peralatan rumah tangga maupun hiasan rumah yang dihasilkan oleh UMKM di Indonesia.

"Sementara konsumen tidak semua siap jika bunga KPR untuk floating rate naiknya bisa 1-3% dari sebelum penyesuaian suku bunga acuan. Demand untuk segmen kelas menengah di sektor perumahan bisa terkoreksi, Alhasil banyak anak muda makin sulit menjangkau rumah," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini