Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gaikindo Ungkap Tantangan Kendaraan Listrik Indonesia, Harganya Belum Terjangkau

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Senin, 10 Oktober 2022 |14:30 WIB
Gaikindo Ungkap Tantangan Kendaraan Listrik Indonesia, Harganya Belum Terjangkau
Gaikindo Ungkap Tantangan Kendaraan Listrik. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mendukung rencana pemerintah melakukan konversi kendaraan konvensional ke kendaraan listrik. Namun perlu diingat bahwa tidak mudah untuk mengubah minat masyarakat untuk langsung menggunakan kendaraan berbasis listrik.

Menurut Ketua Gaikindo Jongkie Sugiharto, setidaknya ada dua pertimbangan masyarakat untuk membeli mobil, pertama adalah harga, kedua kapasitas untuk mobil keluarga.

Namun kalau berbicara mobil keluarga, produsen mobil sebetulnya juga sudah punya produknya, akan tetapi harganya dikisaran Rp700-800 juta. Sedangkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam membeli mobil berasa di range harga Rp300 juta ke bawah.

Baca Juga: Bicara Kendaraan Listrik, Moeldoko: Tak Bisa Sepotong-Sepotong

"Mobil yang di minati oleh orang Indonesia adalah yang 4 pintu, muat sampai dengan 7 orang, sayangnya belum ada mobil listrik semacam ini yang full listrik dengan harga Rp300 juta," ujar Jongkie dalam Market Review IDXChannel, Senin (10/10/2022).

Jongkie menyarankan pemerintah jika ingin beralih ke kendaraan listrik, sebetulnya bisa masuk mulai dari Hybrid terlebih dahulu, disana beberapa mobil yang sesuai dengan spek keluarga masih mempunyai harga yang tidak semahal kendaraan BEV (Batery Electrical Vehicle).

"Tetapi ada jalan keluar juga sebetulnya kalau kita mau menghemat pemakaian bbm, bisa masuk dulu ke hybrid maupun plugin hybrid, dengan masuknya itu, ini harga tidak naik signifikan (dari konvensional ke hybrid)," kata Jongkie.

Baca Juga: PLN Tingkatkan Bauran Energi Bersih Dukung NZE 2060

Sehingga jika pemerintah berniat untuk melakukan perubahan kendaraan dari tenaga fosil ke tenaga listrik, seharusnya dilakukan secara bertahap melalui masuknya era hybrid. Jongkie menjelaskan dengan menggunakan kendaraan hybrid saja, setidaknya sudah mampu menghemat penggunaan BBM hingga 25%.

"Sebetulnya kita harus membuat program transisi tadi, masuk ke hybrid dulu, misal tarifnya disesuaikan lagi, yang penting tujuan pemerintah tercapai (mengurangi penggunaan BBM), kalau ini bisa masuk, ini anggap saja transisi untuk ke BEV," lanjut Jongkie.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement