Share

Harga Pertalite Naik, Bisnis SPBU Swasta Dinilai Kian Ramai

Risky Fauzan, iNews · Senin 17 Oktober 2022 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 17 320 2688437 harga-pertalite-naik-bisnis-spbu-swasta-dinilai-kian-ramai-7ItK03gM5v.jpg Bisnis SPBU (Foto: Okezone)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Reforminer Komaidi Notonegoro menilai positif dengan persaingan usaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang semakin kompetitif setelah PT Pertamina (Persero) mengerek harga BBM awal bulan lalu.

"Saya kira justru positif untuk semua pihak, bagi pertamina dan keuangan negara tentu ada potensi dampak positif. Kalau harga kompetitif, iklim investasinya semakin bagus kalau Pertamina mendekati pesaingnya indikasi harga sudah mendekati harga wajar,” kata Komaidi saat dihubungi MNC Portal, Senin (17/10/2022).

Komaidi menuturkan, situasi persaingan usaha yang semakin ketat itu bakal berdampak positif bagi realisasi investasi mendatang di sektor hilir minyak dan gas (Migas). Hanya saja, dia menggarisbawahi, daya beli masyarakat mesti tetap dijaga.

“Pertamina relatif normal untuk penambahan unit SPBU-nya tapi kalau pelaku lain seperti bp dan vivo saya kira unitnya makin tambah banyak. Konsumen akan lebih banyak pilihan dan tau sebenarnya di level berapa ketika harga tidak disubsidi," tutur Komaidi.

Sebagaimana diketahui, langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, serta BBM non-subsidi yakni Pertamax, membuat tingkat persaingan di bisnis BBM antara PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan swasta kian mendekati seimbang.

Per 3 September 2022, harga Pertalite dari sebelumnya Rp7.650 per liter kini naik menjadi Rp10.000 per liter. Kemudian, harga solar subsidi dari Rp5.150 per liter naik menjadi Rp6.800 per liter. Selanjutnya, harga Pertamax nonsubsidi dari Rp12.500 per liter naik menjadi Rp14.500 per liter.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

Presiden Direktur dan Country Chair Shell Indonesia Ingrid Siburian mengatakan, penyesuaian harga BBM oleh Pertamina, cukup berpengaruh terhadap peningkatan penjualan BBM milik Shell.

"Ada tren positif dari penyesuaian harga itu [BBM Pertamina], karena dilihat dari meningkatnya volume kendaraan yang datang ke SPBU kami. Tapi ini kan masih baru, September lalu. Jadi kalau ditanya dampaknya secara menyeluruh kita perlu monitor dulu tapi kita lihat ada tren positif,” kata Ingrid.

Sementara itu, perusahaan patungan bp dengan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Aneka Petroindo Raya (bp-AKR) menilai positif potensi pasar bahan bakar minyak (BBM) berkualitas di Indonesia seiring persaingan harga yang makin kompetitif antar sejumlah badan usaha swasta dengan PT Pertamina (Persero) saat ini.

Marketing Director & Global Brand Lead bp Vanda Laura mengatakan bp-AKR bakal terus mengembangkan jaringan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) secara bertahap seiring dengan prospek pasar yang masih positif mendatang.

"Kami melihat potensi pasar BBM berkualitas di Indonesia terus tumbuh, untuk itu bp-AKR terus mengembangkan jaringan SPBU nya secara bertahap,” kata Vanda dalam keterangannya.

Sejak beroperasi perdana pada 2018 lalu, Vanda mengatakan, bp-AKR telah mengembangkan sebanyak 32 SPBU yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur hingga saat ini.

“Kami akan terus berekspansi mengembangkan jaringan SPBU bp-AKR, hal ini sebagai wujud komitmen bp-AKR dalam penyediaan dan mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan bakar dan layanan berkualitas,” kata dia

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini