Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menko Airlangga Ungkap Pemulihan Ekonomi dan Optimisme Indonesia pada Acara CSIS di Washington DC

Shelma Rachmahyanti , Jurnalis-Selasa, 25 Oktober 2022 |17:14 WIB
Menko Airlangga Ungkap Pemulihan Ekonomi dan Optimisme Indonesia pada Acara CSIS di Washington DC
Menko Perekonomian Airlangga (Foto: Dok Kemenko Perekonomian)
A
A
A

JAKARTA - Kegiatan Public Lecture pada The CSIS ASEAN Leadership Forum berjudul "Indonesia's Economic Priorities: A Conversation with Airlangga Hartarto" telah berlangsung pada tanggal 24 Oktober 2022 di Gedung CSIS Washington D.C.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Perindustrian beserta beberapa Pejabat Eselon 1 dan 2 Kemenko Perekonomian dan Kementerian Perindustrian.

Sesi awal dibuka oleh John J. Hamre, Presiden dan CEO CSIS dengan Gregory B. Poling, Director CSIS untuk Kawasan Asia Tenggara sebagai moderator. Dalam pembukaannya, Presiden CSIS menegaskan komunitas global perlu melihat peran Airlangga Hartarto dalam posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, dalam menstabilkan perekonomian Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 dan krisis multidimensi global akhir-akhir ini.

“Perekonomian Indonesia saat ini telah berjalan dengan sangat baik, dan dengan recovery ekonomi dari pandemi yang terus berlanjut dengan kecepatan tinggi. Pertumbuhan PDB Indonesia sebesar lebih 5% saat ini telah melampaui pertumbuhan PDB Indonesia pra-pandemi. Dalam rilis laporan World Economic Outlook terbaru pada bulan Oktober 2022, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia sebesar 5,3% dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global kembali turun menjadi 3,2%,” papar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Pada tahun 2023, Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN dimana ASEAN Economic Community akan tetap menjadi komitmen utamanya. Dengan menjadi Ketua ASEAN tahun depan, Indonesia akan melihat upaya-upaya perluasan kerjasama regional dengan mitra ASEAN seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Perjanjian perdagangan serupa dinilai akan semakin memikat, mengingat rantai-pasok global dapat mendukung ketahanan ekonomi negara-negara dunia dalam menghadapi berbagai krisis di masa depan. Indonesia berharap fasilitasi perdagangan yang lebih luas dapat mengurangi tarif bea masuk sekitar 92% barang dan jasa.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement