Share

Mengenal Istilah Hustle Culture, Budaya Gila Kerja yang Abaikan Kesehatan

Talitha Nabila, Presma · Rabu 26 Oktober 2022 20:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 26 622 2694898 mengenal-istilah-hustle-culture-budaya-gila-kerja-yang-abaikan-kesehatan-wPdhWNa208.jpg Ilustrasi kerja. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Mengenal istilah hustle culture di dunia kerja yang tengah viral.

Di mana mungkin sudah tak asing lagi khususnya di kalangan milenial.

Istilah ini artinya, mendorong diri untuk bekerja tanpa kenal waktu dengan ritme yang cepat merupakan karakteristik dari hustle culture ini.

Sebagian orang memandang hal tersebut sebagai pencapaian yang positif karena ada kepuasan tersendiri dengan melampaui kemampuan diri.

 BACA JUGA:Bantu Calon Pekerja, Begini Cara Startup Kenalkan soal Dunia Kerja

Hustle culture juga dapat dijadikan motivasi bekerja guna mencapai sukses yang lebih cepat.

Namun, seperti yang kita semua tahu, tubuh dan pikiran manusia tidak dapat dipaksa bekerja terus-menerus.

Jangankan manusia, mesin saja perlu diistirahatkan pada waktu tertentu untuk kembali beroperasi.

Bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan hustle culture, istirahat dianggap tidak produktif dan menyia-nyiakan waktu.

Mereka akan selalu memikirkan pekerjaan bahkan di waktu luang sekalipun.

Pemikiran dan kebiasaan seperti ini ternyata dapat berdampak negatif pada kesehatan tubuh, mental, dan kualitas hidup.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

Dirangkum Okezone, Rabu (26/10/2022), dari penelitian Current Cardiology Reports di tahun 2018, didapat fakta bahwa orang-orang yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu memiliki resiko terkena penyakit kardiovaskular dan penyakit serebrovaskular yang lebih tinggi dibandingkan orang biasa.

Tak hanya itu, bekerja terlalu lama juga dapat menimbulkan stres berkepanjangan yang berujung kepada kondisi burnout.

Saat seseorang mengalami burnout, dia akan mudah putus asa dan kesulitan mendapat motivasi untuk terus bekerja. Begitu pula dengan kualitas hidup.

Seseorang yang gila kerja dapat berdampak negatif pada kehidupan sosialnya.

Karena hal yang selalu dipikirkan adalah kerja, kerja, dan kerja, waktu untuk diri sendiri dan orang-orang tersayang pun menjadi terkorbankan.

Terlebih lagi di masa pandemi di mana banyak orang bekerja dari rumah, batasan antara waktu bekerja dan waktu beristirahat menjadi tidak terlihat.

Karena berbagai faktor, hustle culture mungkin tidak dapat dihindari.

Tetapi, dampak negatif dari hustle culture tersebut bisa kita cegah dengan membuat jadwal yang jelas tentang kapan kita harus bekerja dan kapan harus istirahat.

Biasakan juga untuk mengambil jeda sejenak saat bekerja agar tidak penat dan kurang-kurangi membandingkan diri dengan orang lain.

Hal tersebut penting karena ritme tiap orang berbeda dan tidak bisa disamakan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini